Produk korporasi lokal mendominasi temuan sampah plastik

Produk korporasi lokal mendominasi temuan sampah plastik

Juru kampanye urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi dalam diskusi di Jakarta Selatan, Selasa (12/11/2019) (ANTARA/Prisca Triferna)

Kita berharap beban dan tanggung jawab bisa diambil oleh mereka karena sampah dari produk mereka cukup banyak ditemukan
Jakarta (ANTARA) - Sampah kemasan plastik produk industri makanan dan minuman dari korporasi lokal masih mendominasi temuan dalam audit merek yang dilakukan Greenpeace pada 2019 di beberapa titik di Indonesia.

"Varian paling banyak yang ditemukan adalah mi instan dan di 2019 temuan yang paling mendominasi adalah perusahaan-perusahaan lokal atau dalam negeri," ujar Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi dalam diskusi yang diadakan di Setia Budi, Jakarta Selatan pada Selasa.

Total 1.645 item ditemukan Greenpeace Indonesia dan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Break Free From Plastic pada 2019 yang didominasi produk air mineral dalam kemasan, bungkus makanan, dan mi instan.

Audit itu dilakukan di delapan kota, yaitu Tangerang di Banten, Pekanbaru di Sumatera Selatan, Bandung di Jawa Barat, Semarang di Jawa Tengah, Yogyakarta, Makassar di Sulawesi Selatan, dan Bali.

Baca juga: Greenpeace sarankan DPD kurangi penggunaan botol plastik

Meski demikian, Atha mengakui temuan-temuan itu belum bisa dikatakan merepresentasikan keadaan secara keseluruhan di Indonesia karena hanya mengambil sampel di titik-titik tertentu.

Namun, tujuan dari audit mereka itu untuk memperlihatkan kepada korporasi-korporasi yang bergerak di industri makanan dan minuman dalam kemasan, bahwa mereka harus ikut melakukan tanggung jawab pengurangan sampah.

"Mendorong perusahaan-perusahaan tersebut sebenarnya untuk menyadari bahwa sampah-sampah (produk, red.) mereka banyak ditemukan di wilayah pesisir, di laut, dan pantai. Kita berharap beban dan tanggung jawab bisa diambil oleh mereka karena sampah dari produk mereka cukup banyak ditemukan," ujar Atha.

Selain kemasan plastik produk makanan dan minuman, Greenpeace Indonesia juga menemukan sampah nonmerek masih mendominasi ditemukan di berbagai titik penanganan sampah.

Menurut data temuan sampah 2016-2019 oleh Greenpeace, 54 persen sampah yang ditemukan adalah sampah nonmerek.

Pada audit 2019, sedotan plastik paling banyak ditemukan, disusul kantong plastik dan puntung rokok untuk sampah nonmerek.
Baca juga: Gerakan Indonesia Bersih Sampah Plastik digelar IIKT
Baca juga: Greenpeace mengimbau masyarakat agar kurangi konsumsi plastik
Baca juga: Banteng Milenial deklarasikan pengurangan plastik sambut Sumpah Pemuda

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ada Program Tukar Baju di Museum Indonesia

Komentar