Pemkab Jayawijaya tekan harga semen tidak lampaui Rp550.000 per sak

Pemkab Jayawijaya tekan harga semen tidak lampaui Rp550.000 per sak

Distribusi bahan pokok, BBM dan semen yang masih mengandalkan jalur udara di Jayawijaya. (ANTARA/Marius Frisson Yewun)

Harga semen non-subsidi, tertinggi ada yang sampai Rp700.000 per sak, tetapi kita tekan supaya harga stabil. Ya paling maksimal Rp550 per sak
Wamena (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua terus melakukan pengawasan untuk memastikan harga semen tidak naik hingga Rp700 ribu per sak seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Jayawijaya, Slamet Wenehen di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Selasa, mengatakan terjadi fluktuasi harga semen pascakericuhan di daerah itu. 

"Harga semen non-subsidi, tertinggi ada yang sampai Rp700.000 per sak, tetapi kita tekan supaya harga stabil. Ya paling maksimal Rp550 per sak," katanya.

Fluktuasi harga terjadi akibat pendistribusian semen dari Biak, Timika dan Jayapura ke Jayawijaya sempat tertahan pascakericuhan.

Baca juga: Pedagang jual semen mahal di NTB terancam sanksi cabut izin usaha

"Hanya kita dorong semen bersubsidi angkutan udara agar distributor berkelanjutan, supaya bisa menolong saudara-saudara kita baik pihak gereja, masyarakat dan pelaku usaha," katanya.

Semen bersubsidi di Jayawijaya dijual dengan harga Rp410.000 untuk ukuran 50 kilogram dan Rp310.000 untuk ukuran 40 kilogram.

Baca juga: Menperin akan cek harga semen untuk lindungi produk lokal

"Semen bersubsidi ini stoknya tersedia, hanya sebagian masyarakat belum tahu kalau ada semen murah ini. Kalau yang sudah tahu itu sering memasukkan permohonan atau permintaan," katanya.

Ia memastikan pemerintah akan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang hendak mengajukan permintaan semen bersubsidi, terutama mereka yang menjadi korban kericuhan atau rumahnya terbakar.

Baca juga: Analis: sektor semen mulai menggeliat, kinerja keuangan akan positif

 

Pewarta: Marius Frisson Yewun
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar