Pemkot Batam tutup 3 pangkalan elpiji

Pemkot Batam tutup 3 pangkalan elpiji

Sejumlah warga antri untuk mendapatkan gas subsidi di agen Tiban III, Sekupang, Batam. Dalam beberapa hari terakhir warga kesuitan mendapatkan gas elpiji 3 Kg. (Evy R. Syamsir)

Tiga pangkalan itu dinilai menjual elpiji 3 kg kepada warga yang tidak berhak menggunakannya.
Batam (ANTARA) - Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, menutup 3 pangkalan elpiji 3 kg yang dinilai melakukan kecurangan hingga mengakibatkan kelangkaan bahan bahan bakar bersubsidi itu.

"Ada permainan yang dilakukan oleh pangkalan. Kami sudah menutup 3 pangkalan yang ada di Sagulung dan Batuaji," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam Gustian Riau di Batam, Selasa.

Tiga pangkalan itu dinilai menjual elpiji 3 kg kepada warga yang tidak berhak menggunakannya.

Ia mengatakan Pemkot Batam akan terus memantau pangkalan, dan bila kedapatan ada yang menjual melebihi harga eceran tertinggi, akan diberikan sanksi.

Baca juga: Pertamina minta pangkalan tak jual elpiji subsidi ke pengecer

Pemkot Batam juga akan mengevaluasi agen. Bahkan rencananya, susunan agen di penjuru kota akan diubah.

"Kemungkinan menjadikan 5 agen setiap kecamatan. Apabila yang lama tidak memungkinkan lagi," ujarnya.

Tim Disperindag terus menyusuri kecamatan-kecamatan untuk melihat aktivitas pangkalan.

Sementara itu, warga Kota Batam Kepulauan Riau mengeluhkan kelangkaan elpiji bersubsidi di sejumlah pangkalan dan pengecer di daerah setempat pada Senin.

"Saya sudah putar-putar sampai ke Tiban, Jodoh, tidak dapat juga," kata warga Sekupang, Ratna.

Baca juga: Puskepi minta elpiji subsidi tepat sasaran

Padahal, biasanya elpiji 3 kg sangat mudah didapat di pengecer yang menjajakan dagangannya di sekitar Sekupang hingga Tiban. Namun, sejak kemarin, pasokan gas bersubsidi sulit didapatkan.

Bahkan, pasokan energi bersubsidi itu juga tidak ditemukan di SPBU yang ia datangi.

Ia mengaku baru mendapatkan energi bersubsidi itu setelah mengantre dan berebut dengan warga lainnya di pangkalan.

Pewarta: Yuniati Jannatun Naim
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar