Mahendra: Rendahnya pertumbuhan dunia alasan diplomasi ekonomi penting

Mahendra: Rendahnya pertumbuhan dunia alasan diplomasi ekonomi penting

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi (barisan depan tengah) menyampaikan paparan mengenai arah politik luar negeri RI untuk periode 2019-2024 ke anggota Komisi I DPR RI dalam rapat kerja bersama di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Dalam rapat, menlu RI didampingi oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar (barisan depan tiga dari kiri) dan jajaran eselon I Kementerian Luar Negeri RI. (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri RI menjadikan diplomasi ekonomi sebagai prioritas politik luar negeri Indonesia, salah satunya demi mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi yang saat ini terjadi di tingkat dunia, kata Wakil Menlu RI Mahendra Siregar saat ditemui usai rapat kerja pertama dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 merupakan yang terendah selama 10 tahun terakhir sejak krisis keuangan dunia pada 2008-2009. Sementara itu, tingkat pertumbuhan dagang dunia pada tahun ini merupakan yang terendah sejak 25 tahun terakhir.

Baca juga: Diplomasi ekonomi, prioritas pertama polugri Indonesia

Di tengah perlambatan ekonomi dunia, persaingan dagang antara Amerika Serikat dan China pun belum menemui titik terang. "Ketidakpastian sebagai dampak perselisihan antara China dan AS nampaknya akan berlanjut," tambah dia.

Situasi itu, menurut Mahendra, menunjukkan perekonomian dunia tengah memasuki masa sulit sehingga diplomasi ekonomi penting dilakukan demi menguatkan kemitraan dagang antarnegara serta mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi dunia.

Pasalnya, ia menjelaskan, perlambatan ekonomi global dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan stabilitas banyak negara, mulai dari di tingkatan global sampai kawasan.

"Khusus untuk Indonesia, di satu sisi (rivalitas dagang) adalah kondisi objektif tadi (perlambatan ekonomi dunia, red). Namun, kita melihat potensi yang muncul," ujar Mahendra.

Baca juga: Menlu: Diplomasi digital untuk kerja sama ekonomi

Lebih jauh dia menjelaskan Indonesia, misalnya, dapat memanfaatkan renggangnya hubungan China dan AS dengan meningkatkan ekspor barang.

"Sebagai gambaran saja, daya saing atau tingkat harga rata-rata produk Indonesia masuk AS itu kurang lebih 10-18 persen lebih mahal daripada produk dari RRT (nama lain China, red). Namun, sekitar 2/3 ekspor RRT ke AS kena tarif 15-30 persen. Dalam kondisi itu, produk kita jadi lebih kompetitif dan dicari," terang Mahendra.

Ia menyebutkan produk yang dapat ditingkatkan jumlah ekspornya mencakup tekstil, alas kaki (footwear), karet, perabotan rumah tangga (home appliances), dan furnitur.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam rapat kerja pertama dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa diplomasi ekonomi merupakan prioritas program politik luar negeri RI untuk periode 2019-2024.

Diplomasi ekonomi RI, Retno menjelaskan, akan dijalankan melalui dua langkah, di antaranya penguatan pasar domestik atau pasar dalam negeri dan penguatan pasar tradisional serta terobosan ke pasar non-tradisional seperti Afrika.

Baca juga: Diplomasi Indonesia di Afrika fokus pada nilai tambah ekonomi

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Arah diplomasi ekonomi Indonesia ke benua Afrika

Komentar