Empat ilmuwan dan satu mantan wakil menteri terima Habibie Award

Empat ilmuwan dan satu mantan wakil menteri terima Habibie Award

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro (lima dari kiri) bersama lima penerima Habibie Award, yakni Eko Prasojo (dua dari kiri), Tati Latifah Erawati Rajab (tiga dari kiri), Adi Utarini (empat dari kiri), Ivandini Tribidasari Anggraningrum (empat dari kanan), I Gusti Ngurah Putu Wijaya (dua dari kiri) dalam acara penganugerahan Habibie Award ke-21 di Jakarta, Selasa (12/11/2019).(ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak

bisa menjadi contoh bagi rekan sejawat dan kolega kalau konsisten terus di bidangnya
Jakarta (ANTARA) - Habibie Award dianugerahkan kepada tiga ilmuwan, satu budayawan dan satu mantan Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang telah berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan di Indonesia.

Lima ilmuwan tersebut adalah Prof. Dr. Ivandini Tribidasari Anggraningrum di bidang ilmu dasar, Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., Ph.D di bidang ilmu kedokteran, Prof. Dr. Ir. Tati Latifah Erawati Rajab di bidang ilmu rekayasa, Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ. di bidang ilmu sosial dan politik, serta Dr. (H.C) I Gusti Ngurah Putu Wijaya, S.H di bidang ilmu kebudayaan.

"Mereka (para pemenang Habibie Award) bisa menjadi contoh bagi rekan sejawat dan kolega kalau konsisten terus di bidangnya dan terus melahirkan penelitian berkualitas maka akhirnya mendapatkan 'award' (penghargaan)," kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro dalam acara penganugerahan Habibie Award ke-21 di Jakarta, Selasa.

Menristek Bambang mengapresiasi prestasi dan kontribusi dari lima ilmuwan penerima Habibie Award ke-21, dan berharap penganugerahan penghargaan itu dapat menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat Indonesia terutama ilmuwan dan peneliti untuk berkarya dan berkontribusi optimal terhadap kesejahteraan bangsa.

Baca juga: Pemerintah jadikan Habibie Award ajang tahunan nasional
Baca juga: Patung Habibie-Ainun jadi ikon KPID Award


Habibie Award diberikan kepada perseorangan atau badan yang dinilai sangat aktif dan berjasa besar dalam menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan berbagai kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru serta bermanfaat secara berarti bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan dan perdamaian.

Yayasan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang didirikan oleh Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan keluarga mengadakan penganugerahan Habibie Award ke-21. Habibie Award ini merupakan bagian dari rangkaian acara perayaan Hari Ulang Tahun ke-20 The Habibie Center.

Eko Prasojo, yang merupakan dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, berkontribusi dalam pembangunan ilmu dan praktik pemerintahan melalui tulisan di berbagai jurnal, opini media, dan lima belas buku berbahasa Indonesia, antara lain buku Deregulasi dan Debirokratisasi Perizinan di Indonesia. Dia ditunjuk sebagai Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pencapaian dalam bidang Ilmu Administrasi Publik mengantar Eko meraih Bintang Mahaputera Utama 2014 "Distinguished Scholar and Scientist in Public Administration" dari Philippine Society for Public Administration 2018, dan sebagai orang ketiga dari Asia yang menerima The Braibant Lecture 2019 dari International Institute of Administrative Science di Belgia. Atas perannya dalam mendorong kebijakan reformasi administrasi dan otonomi daerah, Eko dianugerahi Habibie Award di bidang Ilmu Sosial dan Politik.

Baca juga: Guru besar UI menjadi wakil menteri PAN
​​​​​​

I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang merupakan seorang budayawan mendapat Habibie Award di bidang Ilmu Kebudayaan atas karya-karyanya yang menginspirasi penciptaan karya tulis dan seni teater di Indonesia. Putu Wijaya memperoleh SEA Write Award dari Ratu Sirikit Thailand, Anugerah Balai Pustaka Horison dan berbagai penghargaan dari Akademi Jakarta, Festival Film Bandung, Federasi Teater Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Presiden Republik Indonesia, dan sebagainya. Skenario film miliknya telah tiga kali membawanya meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia.

Baca juga: Universitas diminta kembangkan riset sesuai keunggulan
Baca juga: Kemristekdikti: PUI ibarat dokter iptek untuk UKM dan industri


Adi Utarini merupakan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Sebagai ketua peneliti World Mosquito Program Yogyakarta, Utarini bersama tim berupaya membuktikan efektivitas terobosan baru untuk menurunkan kejadian Demam Berdarah secara biologis inovatif, yakni intervensi nyamuk aedes aegypti dengan bakteri wolbachia. Intervensi tersebut dinilai mampu menghambat replikasi virus dengue dalam nyamuk yang menyebabkan demam berdarah sehingga mengurangi penularan kepada manusia. Atas pengabdiannya dalam upaya pengendalian penyakit menular dan manajemen mutu pelayanan kesehatan, Utarini dianugerahi Habibie Award bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi.

Ivandini Tribidasari Anggraningrum adalah guru besar Kimia di Fakultas MIPA Universitas Indonesia yang telah menghasilkan delapan karya paten yakni tiga bersertifikat dan lima terdaftar, yang sebagian besar mengenai elektrokimia intan terdadah boron yang berfungsi sebagai sensor dan biosensor. Intan yang dahulu hanya menjadi alat tukar dan perhiasan, kini dapat disintesis menjadi bahan untuk mengembangkan teknologi katalis, mengatasi pencemaran lingkungan dan energi alternatif. Atas konsistensinya menekuni pengembangan aplikasi material unggul maupun teori fundamental, Ivandini dianugerahi Habibie Award 2019 di bidang ilmu dasar.

Tati Latifah Erawati Rajab dianugerahi Habibie Award di bidang Ilmu Rekayasa atas jasa-jasanya dalam berbagai inovasi teknologi dan pendidikan biomedika. Tati, yang merupakan dosen Institut Teknologi Bandung, mengembangkan berbagai alat kesehatan dengan bekerja sama dengan rumah sakit atau fakultas kedokteran, antara lain alat bantu rehab medik pascaoperasi, software periksa mata, sistem sensor ElectroEnchepaloGraphy, dan sistem deteksi dini kanker payudara. Tiga paten terdaftar berupa Non-Invasive Vascular Analyzer atau NiVa untuk mendeteksi tingkat kelenturan pembuluh darah, alat ElektroKardioGrafi 12 lead dengan telemetri, dan perangkat Elisa Reader versi baru untuk mendeteksi virus hepatitis B.

Atas prestasi, pemikiran dan kontribusi dari penerima Habibie Award, masing-masing mendapat 25 ribu dolar AS, sertifikat, dan medali Habibie Award.

Baca juga: Perguruan Tinggi harus punya riset unggulan
Baca juga: Pusat Unggulan Iptek diharapkan jawab kebutuhan Indonesia

 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenristek/BRIN dukung Bio Farma buat vaksin hepatitis C

Komentar