Pesawat transpor A400M "Atlas" hadir lagi di Jakarta

Oleh Ade P. Marboen

Pesawat transpor A400M "Atlas" hadir lagi di Jakarta

Dokumentasi - Airbus A400M Atlas dari Skuadron Udara 70 Angkatan Udara Kerajaan Inggris bernomor registrasi ZM401 di apron Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6-3-2017). Pesawat itu telah mendarat di Jakarta sejak Minggu lalu (5/3) dalam misi penerbangan safari kelliling dunia. ANTARA/Ade P. Marboen

Jakarta (ANTARA) - Kendaraan perintis Foxhound itu diikat kuat ke point-point di lantai ruang kargo secara kuat memakai tali-tali webbing ukuran lebar dan kukuh. Tidak mungkin dia bisa diguncang dan berubah dari posisinya, bahkan jika terjadi belly landing sekalipun.

Kendaraan perang ini seukuran truk mini dengan lantai yang dibuat menyudut drastis terhadap tanah. Dengan ground clearance yang tinggi (hampir sepinggang orang dewasa) dan dek bawah menyudut, mobil lapis baja ini jelas dirancang untuk tahan dari ledakan peledak rakitan alias improvized ordnance device musuh.

Informasi lisan yang didapat Foxhound kerap dipergunakan tim khusus Angkatan Darat Kerajaan Inggris di medan penugasan sebenarnya, dengan peran utama sebagai alat transpor personel di darat untuk menggantikan peran Defender-nya Land Rover.

“Bobotnya 7,5 ton dan dia milik Angkatan Darat Kerajaan Inggris,” kata seorang bintara juru muat (load master) yang bertanggung jawab atas semua benda yang ikut dalam penerbangan A400M Atlas milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris yang hadir di Jakarta, sejak Senin (11/11).

Baca juga: Airbus A400M Angkatan Udara Kerajaan Inggris hadir di Jakarta

Tercatat ini adalah keempat kalinya A400M Atlas hadir di persada Indonesia setelah yang terakhir dia hadir sebagai bagian dari kekuatan militer negara-negara sahabat dalam operasi kemanusiaan penanggulangan tsunami Palu pada Oktober 2018.

Saat itu, A400M yang hadir adalah milik Tentera Udara Diraja Malaysia, yang terbang dari Fort Butterworth, di Penang, Malaysia.

Pesawat transpor berat taktis-strategis besutan Airbus Defence and Space—divisi khusus persenjataan, pesawat militer, dan keruangangkasaan Airbus—berkelir abu-abu ringan Malaysia kala itu mengangkut beban lebih dari 20 ton. Di dalamnya terdapat satu ekskavator buatan PT Pindad dan satu truk tangki BBM ukuran besar.

Mendarat secara sempurna dan mudah di Bandara SIS Al Jufri, Palu, pada petang hari, A400M Malaysia itu langsung langsir ke arena parkir dan membongkar muatannya. Satu-satunya “pe-er” adalah mencari papan landasan yang kuat bagi ekskavator itu untuk bertengger di atas truk kontainer khusus.

Selanjutnya, A400M itu kembali menyalakan keempat mesin Europ TP400-D6 turboprop yang masing-masing berdaya 11.000 hp (8.200 kW) untuk dia tinggal landas dan meraih ketinggian jelajah dengan sudut yang curam. Yang unik adalah bilah-bilah baling-balingnya yang besar dan bentuknya mirip sabit raksasa yang gemuk.

Itu kisah nyata operasi militer selain perang alias operasi kemanusiaan yang melibatkan A400M Atlas di Indonesia, bersama-sama dengan sejawat pesawat transpor berat lain yang legendaris, C-130H Hercules dan C-130J Super Hercules keluaran pabrikan Lockheed Martin, Amerika Serikat.

Pada tanggal 11 November 2019, A400M Atlas dari Angkatan Udara Kerajaan Inggris mendarat di landas pacu Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. Biasanya kehadiran pesawat militer untuk keperluan penerbangan muhibah atau penerbangan promosi itu mengambil tempat di fasilitas militer (Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma) maka kali ini hal itu terjadi di fasilitas sipil.

Tidak ada keterangan apa pun soal ini, baik oleh Kedutaan Besar Inggris di Jakarta maupun perwakilan Airbus Defence and Space. Begitu pula  oleh personel Angkatan Udara Inggris yang menerbangkannya.

Oleh perwira menengah Angkatan Udara Kerajaan Inggris yang memimpin penerbangan feri lintas negara itu, Wing Commander (setara kolonel di TNI AU, komandan wing) Ed Horne, diutarakan bahwa A400M mereka itu sebelumnya mendarat di Australia.

“Setelah ini kembali pulang melalui Malaysia, Kolombo di Sri Lanka, dan Timur Tengah dengan membawa anggota dan kendaraan tempur,” kata Horne di Jakarta, Selasa (12/11).

Kendaraan tempur yang dia maksud itu adalah Foxhound buatan Company Force Protection berwarna hijau oliv sebagaimana dinyatakan pada awal tulisan.

Baca juga: Panglima TNI belum terima laporan pembelian A400M Atlas

Horne yang tampil mengenakan seragam cover-all penerbang warna kamuflase hijau drab olive, mengutarakan berbagai hal terkait pesawat terbang transpor berat buatan Airbus Industrie itu. Ia membuka dengan penjelasan bahwa Angkatan Udara Kerajaan Inggris mengakuisisi A400M itu pada tahun 2014. Kini mereka mengoperasikan 20 unit A400M Atlas.

Ia juga tidak menampik berbagai “tantangan” yang mereka jumpai sebagai pengguna terhadap kinerja A400M, dan pemberitaan seputar ini memang cukup deras saat itu. Saat menyatakan hal ini, ekspresi wajah Horne yang telah menggenggam ribuan jam terbang itu wajar-wajar saja.

“Tetapi semua ‘tantangan’ itu sudah berhasil diatasi dan kami bisa mengoperasikan pesawat transpor ini secara efektif di berbagai belahan dunia,” katanya.

Sekadar catatan, Inggris adalah salah satu operator pesawat transpor berat dari berbagai kelas dan buatan beberapa manufaktur. Sebagai anggota NATO, mereka sangat fasih dengan doktrin penggelaran pasukan dan proyeksi kekuatan yang sangat cepat.

Untuk ukuran gelaran pesawat transpor berat, mereka harus bisa digerakkan lengkap dengan pengawak, personel perawatan-pemeliharaan, peralatan, dan suku cadang, serta kargo atau pasukan yang diberangkatkan, hanya beberapa jam setelah perintah diberikan.

“Itu yang terjadi saat Badai Irma terjadi di Karibia pada bulan September 2017. Kami menerbangkan dua unit A400M ke sana dan berhasil mengangkut sangat banyak barang bantuan kemanusiaan,” kata dia.

Kerajaan Inggris memiliki beberapa dominion di Karibia yang saat itu sangat terdampak Badai Irma yang bertiup hingga kecepatan 243 kilometer per jam itu. Rekaman video yang diperagakan Horne menjelaskan dampak yang terjadi dan bagaimana barang-barang kemanusiaan dari pemerintah Inggris melalui UK Aid disalurkan mereka.

Untuk menuju ke Karibia di Samudera Atlantik di Barbuda, Antigua, dan sekitarnya, A400M Atlas bisa melakukan penerbangan langsung tanpa mengisi ulang bahan bakar. Hal ini cukup wajar terjadi karena kapasitas tangki BBM dia sangat besar, sekitar 50.500 liter dan kecepatan ekonomisnya pada ketinggian jelajah normal (31.000 kaki dari permukaan laut) adalah 780 kilometer per jam.

Ia memberi analogi dengan C-130J Super Hercules—seri paling anyar dari C-130—bahwa “C-130 harus mampir di Eslandia dan Kanada untuk bisa sampai di Karibia. Dengan demikian, A400M jauh lebih cepat dalam memberikan tanggap darurat.”

Dalam penerjemahan operasi militer perang, salah satu penentu keberhasilan misi adalah kecepatan serangan dan faktor kejutan.

Dalam misi kemanusiaan selama 30 hari di Karibia itu, Horne menyebutkan mereka mampu menyeberangkan 1,5 juta ton kargo dan memindahkan 4.000 orang. Dengan limit maksimal kargo yang bisa dibawa hingga 37 ton. Maka, kedua A400M mereka itu bisa dibilang tidak pernah lama beristirahat di landas parkir karena harus selalu mengudara.

Masih ada lagi beberapa misi kemanusiaan yang dioperasikan Angkatan Udara Kerajaan Inggris berbasis A400M mereka. Selain misi kemanusiaan, mereka juga melayani misi Ambassador of Goodwill Angkatan Udara Kerajaan Inggris, yaitu sebagai pendukung tim Red Arrows yang kondang itu. Hal ini terjadi pada tahun 2019 dalam operasi yang dinamakan Western Hawk.

Baca juga: Indonesia ajukan LoI pembelian Airbus A400M Atlas

Pertanyaan yang cukup menyentil di benak adalah: "Bagaimana A400M Atlas ini bisa 'dikombinasikan' operasionalisasinya dengan C-130 Hercules?" Inggris memiliki kedua jenis pesawat transpor ini dalam jumlah cukup signifikan.

Pada sisi lain, Indonesia yang selama ini sangat fasih dengan C-130 Hercules dipandang sebagai calon pembeli potensial untuk A400M. Indonesia tercatat sebagai negara baru pertama di belahan selatan Bumi penerima C-130 Hercules pada awal dasawarsa ’60-an.

Beberapa waktu lalu cukup deras pemberitaan bahwa pemerintah melalui BUMN PT Pertamina dan PT Pelita Air Service akan membeli A400M Atlas dan akan dioperasikan oleh pengawak dari TNI AU sementara fungsi MRO (Maintenance, Repair and Overhaul) oleh suatu perusahaan nasional.

Ini cukup tidak lumrah karena sejatinya A400M adalah pesawat transpor berat untuk militer, dan dari delapan negara penggunanya, yaitu Spanyol, Inggris, Jerman, Prancis, Turki, Malaysia, Belgia, dan Luksemburg, semuanya mendedikasikan pesawat transpor berat taktis-strategis ini untuk militer mereka.

Jawaban dari Horne yang juga mengantongi banyak jam terbang di kokpit C-130 Hercules adalah" “Masing-masing memiliki kelebihan tersendiri walau terkadang bisa overlapping.”

Maksudnya adalah, ada misi yang hanya pas dilaksanakan C-130 Hercules, misalnya misi operasi pasukan khusus ke garis pertahanan lawan, dan ada juga misi yang pas dilakukan A400M Atlas. Misalnya, penerjunan pasukan payung dalam jumlah sangat masif, jarak lebih jauh, dan cepat. Selain itu, juga ada yang bisa dilaksanakan oleh keduanya, baik C-130 Hercules maupun A400M Atlas.

Oleh Ade P. Marboen
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Diskriminasi sawit Indonesia, Airlangga ingatkan Eropa soal Airbus

Komentar