Emas kembali jatuh tertekan penguatan dolar dan kenaikan saham AS

Emas kembali jatuh tertekan penguatan dolar dan kenaikan saham AS

Ilustrasi - Emas murni 99,9 persen batangan. ANTARA/Shutterstock/aa. (Shutterstock/Oleksandr_Delyk)

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember turun 3,40 dolar AS atau 0,23 persen menjadi ditutup pada 1.453,70 dolar AS per ounce,...
Chicago (ANTARA) - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange kembali jatuh pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), yang merupakan penurunan sesi keempat berturut-turut karena dolar AS menguat dan indeks acuan saham AS naik.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember turun 3,40 dolar AS atau 0,23 persen menjadi ditutup pada 1.453,70 dolar AS per ounce, level terendah sejak Agustus karena sentimen safe haven di kalangan investor berkurang.

Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada perdagangan Selasa (12/11/2019), karena para pelaku pasar mencerna sejumlah data ekonomi.

Baca juga: Harga emas Antam amblas Rp5.000, di bawah Rp750.000/gram

Ukuran optimisme bulanan di antara pemilik usaha kecil AS telah meningkat pada ekspektasi yang lebih optimis untuk pengeluaran modal, persediaan dan penjualan, menurut laporan dari Federasi Nasional Bisnis Independen (NFIB) pada Selasa (12/11/2019).

Indeks Optimisme Bisnis Kecil NFIB mencapai 102,4 pada Oktober, naik 0,6 poin dari bulan sebelumnya, kata laporan tersebut.

Indeks dolar AS, ukuran greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, naik lebih dari 0,1 persen menjadi bertahan di atas 98,3. Ketika dolar naik, emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500 dan Nasdaq semuanya menguat sebelum penyelesaian perdagangan emas. Ketika ekuitas membukukan keuntungan, logam mulia biasanya turun karena investor mengalihkan investasi ke pasar ekuitas.
Baca juga: Harga emas jatuh, dipicu permintaan rendah pada aset aman

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar