Resensi film

"Love is A Bird", tentang seni mencintai

"Love is A Bird", tentang seni mencintai

Poster film "Love is A Bird" (Instagram.com/bront_palarae)

Jakarta (ANTARA) - Mencintai seseorang itu ada seninya dan membebaskan orang yang Anda cintai adalah salah satunya, demikian pesan dalam film karya sutradara Richard Oh, "Love is A Bird".

Film berdurasi hampir dua jam itu berawal dari Darma (Bront Palarae), seorang fotografer asal Jakarta yang berkelana ke kota Yogyakarta untuk mencari inspirasi. Di tengah pencarian, dia tak sengaja memotret seorang penari bernama Naira (Ibel Tenny).

Darma merasa tertarik pada Naira mengikuti dia ke berbagai tempat. Hingga pada suatu titik, dia mengetahui hubungan Naira sedang bermasalah dengan kekasihnya, Jafran (Ibnu Widodo).

Jafran memaksa Naira berlatih menari agar bisa menjadi penari terkenal. Naira pada akhirnya merasa tertekan dan marah pada kekasihnya itu.

Di lain sisi, karena Naira, Darma teringat pada kisah cintanya dengan Kirana (Gemilang Sinatrya) yang telah kandas karena suatu masalah. Sosok Kirana berkali-kali hadir dalam hidup Darma, meminta Darma kembali.

Di tengah keinginan CLBK Kirana, hadirlah Remi (Morgan Oey) yang mengaku begitu mencintai Kirana. Remi mengadu pada Darma kalau Kirana mencampakannya. Darma menyarankan sesuatu pada Remi, sebuah saran yang tak disukai Kirana.

Pertemuan tokoh Darma dan Naira yang awalnya murni karena ketidaksengajaan berlanjut sesi curhat. Naira mengeluh tentang mustahilnya menjadi penari pada Darma. Hingga pada akhirnya dia meminta Darma membawanya ke Jakarta. Apa jawaban Darma?

Richard berusaha menyuguhkan kisah cinta yang begitu umum di masyarakat Indonesia. Hal ini didukung alur cerita yang relatif tak menyulitkan penonton memahaminya.

Bukan dialog, dia justru lebih memfokuskan pada ekspresi para aktor untuk menangkap emosi mereka dalam berbagai adegan. Inilah alasan Richard menggunakan teknik pengambilan gambar yang tak umum, walau terkadang membuat kepala pusing.

"Suatu eksplorasi bagaimana momen-momen emosional bisa ditangkap secara natural. Cinta itu adalah karakter," tutur dia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

"Love is A Bird" yang diproduseri Marsio Juwono itu akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 14 November mendatang.


Baca juga: Morgan Oey jadi tokoh kejutan di "Love is A Bird"

Baca juga: Bront Palarae eksplorasi rasa dalam "Love is A Bird"

Baca juga: Morgan Oey puas main film bareng Widyawati

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar