Pasien BPJS di Baturaja mengeluhkan kesulitan mendapat obat

Pasien BPJS di Baturaja mengeluhkan kesulitan mendapat obat

Rahmat Hidayat, salah seorang peserta BPJS warga Baturaja ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). (Antara News Sumsel/Edo Purmana)

Jadi buat apa bayar iuran BPJS Kesehatan setiap bulan kalau hak kita dikebiri
Baturaja (ANTARA) - Sejumlah pasien BPJS Kesehatan di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan sejak sebulan terakhir mengeluhkan kesulitan mendapat obat di apotik sehingga terpaksa menggunakan uang pribadi untuk membeli obat tersebut.

"Sudah sejak beberapa bulan ini saya kesulitan memperoleh obat insulin di apotik untuk penyakit diabetes saya ini," kata Rahmat Hidayat, salah seorang peserta BPJS warga Baturaja ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Rabu.

Baca juga: Dirut pastikan kenaikan iuran BPJS Kesehatan memperbaiki pelayanan

Dia mengemukakan, biasanya setiap satu bulan ia mendapat jatah obat insulin sebanyak dua pen, namun sejak awal Oktober 2019 obat tersebut tidak tersedia di apotik langganan di wilayah setempat yang menjadi mitra BPJS.

Menurut dia, akibat kondisi tersebut ia terpaksa menggunakan uang pribadinya untuk membeli obat insulin dengan harga cukup mahal yaitu sekitar Rp200.000/pen.

Baca juga: Klinik Madani-Manado jadi contoh pelayanan terbaik peserta JKN-KIS

"Saya sempat protes ke BPJS OKU. Namun pihak BPJS dengan santai cuma minta maaf saja. Mereka bilang masalahnya cuma karena distribusi obatnya saja ke apotik yang terhambat. Hal ini bukan kesalahan BPJS tetapi murni kesalahan dari pihak apotik," kata Dosen FISIP Universitas Baturaja ini.

Merasa kurang puas dengan jawaban itu, Rahmat mengajukan klaim ke BPJS OKU, tetapi jumlah yang dibayar jauh dibawah harga pasaran.

Baca juga: Dirut BPJS apresiasi RS kelas C dengan pelayanan terbaik

"Saya klaim cuma dapat Rp85.000/pen, padahal harga obat insulin di apotik mencapai Rp200.000/pen. Artinya saya telah dirugikan sekitar Rp115.000/pen," tegasnya.

Menurut Rahmat, masalah ini bukan pertama kali dialaminya, tetapi saat awal tahun lalu ia juga kesulitan mendapatkan obat insulin dengan menggunakan BPJS.

"Jadi buat apa bayar iuran BPJS Kesehatan setiap bulan kalau hak kita dikebiri," katanya.

Hal serupa juga dialami oleh Ega (24) warga Baturaja lainnya menambahkan sejak satu bulan terakhir kesulitan mendapatkan insulin di apotik langganan.

"Padahal sebagai peserta BPJS biasanya setiap bulan saya mendapat jatah insulin sebanyak empat pen, namun sekarang cuma dua pen per bulan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPJS OKU, Fitri saat dikonfirmasi melalui pesan whatsapp belum memberikan jawaban terkait keluhan peserta BPJS tersebut.

Pewarta: Edo Purmana
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar