Bom di Kabul tewaskan tujuh orang, empat WNA luka-luka

Bom di Kabul tewaskan tujuh orang, empat WNA luka-luka

Petugas kepolisian Afghanistan berjaga di sekitar lokasi kejadian bom mobil yang meledak di Kota Kabul, Afghanistan, Rabu (7/8/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Omar Sobhani/wsj/aa.

Kabul (ANTARA) - Sekitar tujuh orang tewas dan 10 orang lainnya, termasuk empat warga negara asing (WNA) luka-luka akibat bom yang meledak di Kabul, ibu kota Afghanistan, Rabu, kata otoritas setempat.

Menurut pihak terkait, bom itu berasal dari sebuah mobil yang menargetkan kendaraan milik perusahaan keamanan asing.

Sampai saat ini, belum ada pihak manapun yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden pada jam sibuk itu. Ledakan bom di Kabul terjadi sehari setelah Pemerintah Afghanistan sepakat menukar sandera yang ditahan dengan anggota garis keras Taliban. Pertukaran itu diharapkan dapat menjadi awal perundingan damai dua pihak.

Baca juga: Gerilyawan Taliban akan ditukar dengan tawanan Amerika, Australia

Nasrat Rahimi, juru bicara Kementerian Dalam Negeri, mengatakan seorang pelaku bom bunuh diri mengendarai sebuah mobil dan menabrak kendaraan lapis baja milik GardaWorld, perusahaan penyedia jasa keamanan asal Kanada. Akibat kejadian itu, empat pegawai GardaWorld luka-luka.

"Tujuh warga Afghanistan tewas akibat ledakan, 10 orang lainnya termasuk empat WNA luka-luka," kata Rahimi.

Walaupun demikian, Rahimi belum dapat menyampaikan kewarganegaraan pekerja asing yang terluka, tetapi seorang pejabat senior di Afghanistan menyampaikan kemungkinan mereka berasal dari India atau Nepal.

Kepolisian di Kabul masih bekerja untuk mengetahui identitas dari korban luka-luka.

GardaWorld dan pejabat dari Kementerian Luar Negeri India dan Nepal belum dapat dihubungi untuk dimintai keterangan.

Baca juga: Bom di Afghanistan saat shalat Jumat tewaskan 29 orang

Dua komandan Taliban dan pemimpin organisasi garis keras Haqqani dibebaskan oleh aparat sebagai ganti dari dua profesor berkebangsaan Amerika Serikat dan Australia yang ditahan oleh organisasi garis keras itu. Bagi sejumlah pengamat, pertukaran tahanan dengan sandera dapat membuka perundingan damai bagi dua pihak.

Taliban sejauh ini menolak untuk berunding dengan Pemerintah Afghanistan yang didukung oleh AS. Menurut Taliban, pemerintah merupakan "rezim boneka".

Salah satu anggota garis keras yang dibebaskan, Anas Haqqani, merupakan adik Sirajuddin Haqqani, petinggi kedua Taliban serta pemimpin jaringan Haqqani. Jaringan itu diyakini sebagai kelompok yang cukup berbahaya karena kerap bertanggung jawab atas sejumlah serangan di Kabul.

Baca juga: Komisi Pemilu Afghanistan hilang kontak 901 TPS

Ledakan bom pada Rabu ini terjadi pada masa yang cenderung tenang setelah pemilihan presiden pada September. Selama pemungutan suara berlangsung, jumlah aksi teror Taliban terkait pemilu di berbagai wilayah meningkat sampai menewaskan sekitar 85 orang.

Sekitar 4.000 warga sipil tewas dan luka-luka sampai pertengahan tahun ini, angka itu menunjukkan peningkatan jumlah korban cukup tinggi akibat konflik pemerintah dan pasukan asing, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar