Emas naik karena keraguan atas kesepakatan perdagangan tekan ekuitas

Emas naik karena keraguan atas kesepakatan perdagangan tekan ekuitas

Ilustrasi - Emas murni 99,99 persen. ANTARA/Shutterstock/Allstars/aa.

Presiden Trump berbicara tentang menaikkan tarif pada akhirnya jika tidak ada resolusi atau kesepakatan apa pun pada fase satu dan itu tampaknya menarik pembeli terhadap emas.
New York (ANTARA) - Emas naik pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena pidato Presiden AS Donald Trump tentang hubungan perdagangan dengan China mengurangi optimisme untuk kesepakatan dan mengurangi minat terhadap aset-aset berisiko.

Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange ditutup naik 0,7 persen menjadi 1.463,30 dolar AS per ounce, setelah turun selama empat sesi berturut-turut. Sementara itu harga emas di pasar spot naik 0,4 persen menjadi 1.462,03 dolar AS per ounce pada pukul 1:36 sore waktu setempat.

"Presiden Trump berbicara tentang menaikkan tarif pada akhirnya jika tidak ada resolusi atau kesepakatan apa pun pada fase satu dan itu tampaknya menarik pembeli terhadap emas," kata Michael Matousek, kepala pedagang di Global Investors AS.

"Dalam jangka panjang, sebagai investasi, emas masih merupakan tempat yang aman. Orang masih ingin memilikinya. Tren keseluruhan masih naik."

Trump pada Selasa (12/11/2019) mengatakan kesepakatan perdagangan sudah dekat tetapi tidak memberikan rincian kapan atau di mana suatu perjanjian akan ditandatangani, mengecewakan para investor dalam apa yang disebut sebagai pidato utama tentang kebijakan ekonomi pemerintahannya.

Baca juga: Dolar AS naik sedikit ketika kesaksian Powell menjadi pusat perhatian

Dia juga mengguncang beberapa investor dengan mengancam China dengan tarif lebih banyak lagi jika kedua negara tidak mencapai kesepakatan.

Ketidakpastian perdagangan membebani ekuitas AS, dengan tekanan lebih lanjut datang dari protes yang sedang berlangsung di Hong Kong.

Demonstran anti-pemerintah di Hong Kong berencana untuk melumpuhkan bagian-bagian dari pusat keuangan Asia itu untuk hari ketiga, dengan transportasi, sekolah dan banyak bisnis tutup setelah kekerasan meningkat di seluruh kota.

Investor juga mempertimbangkan komentar terbaru dari Federal Reserve AS, dengan Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral melihat "ekspansi berkelanjutan" ke depan untuk ekonomi AS, sementara dampak penuh dari penurunan suku bunga baru-baru ini belum terasa.

Sementara itu, data indeks harga konsumen (IHK) AS lebih baik dari yang diharapkan karena harga konsumen untuk Oktober naik 0,4 persen, melebihi ekspektasi.

Namun, reaksi emas terhadap komentar Powell relatif tidak terdengar.

Baca juga: S&P 500 bersusah payah naik setelah pernyataan perdagangan Trump

“Mereka (The Fed) tidak akan melakukan langkah apa pun atas suku bunga. Jadi akibatnya emas berjangka itu tetap kuat," kata Phillip Streible, ahli strategi komoditas senior di RJO Futures.

Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga, yang mengangkat potensi keuntungan pemegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Di antara logam mulia lainnya, paladium naik 0,6 persen menjadi 1.709,64 dolar AS per ounce. Logam ini mencapai tertinggi sepanjang masa 1.824,50 dolar AS pada 30 Oktober sebagai akibat dari krisis pasokan yang berkelanjutan.

Perak naik 0,9 persen menjadi 16,92 dolar AS per ounce dan platinum naik 0,5 persen menjadi 873,03 dolar AS per ounce dan ditetapkan untuk mengakhiri penurunan empat sesi berturut-turut.
Baca juga: Emas kembali jatuh tertekan penguatan dolar dan kenaikan saham AS

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar