Laporan dari Korea

Mengenal sejarah Busan di Taman Taejongdae

Oleh Maria Rosari Dwi Putri

Mengenal sejarah Busan di Taman Taejongdae

Pemandangan laut dari Taman Taejongdae. (ANTARA / Maria Rosari)

Busan (ANTARA) - Salah satu kota terbesar di Korea Selatan adalah Busan. Wilayah ini dikenal sebagai kota pelabuhan dan merupakan salah satu pusat perdagangan serta industri.

Busan juga memiliki banyak tempat menarik yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara, salah satunya adalah Taman Taejongdae.

Baca juga: Gangwon suguhkan sensasi wisata musim dingin di Korsel

Taman Taejongdae merupakan salah satu lanskap alam terbaik di Korea Selatan, berlokasi di bagian selatan Busan atau sekitar 14 kilometer dari Distrik Yeongdo (pusat kota Busan). Tebing di Taejongdae merupakan penghalang ombak atau pelindung alami Pelabuhan Busan, sehingga banyak kapal laut terlihat berkabar di kedua sisi pulau untuk memasuki pelabuhan.

Di taman wisata ini, pengunjung menemukan sedikit ketenangan setelah menjelajahi Kota Busan yang sangat sibuk. Tidak hanya bisa menikmati keindahan alam Busan, pengunjung juga dapat mempelajari sejarah kota terbesar kedua di Korea Selatan ini.

Taejongdae diambil dari nama salah satu raja di Korea Selatan yaitu Raja Taejong Muyul (654-661) dari Dinasti Silla. Dahulu, Raja Taejong selalu berlatih memanah di wilayah ini, setelah berhasil mempersatukan tiga kerajaan kecil di Korea.

Baca juga: Liburan tanpa ribet di Korea Selatan lewat aplikasi

Taejongdae ini secara resmi didirikan pada tahun 1967. Namun taman ini sempat tertutup dan tidak dapat dikunjungi hingga perang Korea berakhir pada 1969. Hal ini disebabkan karena wilayah Taejongdae menjadi salah satu basis angkatan laut Korea Selatan untuk memantau musuh (Jepang).

Di halaman depan dekat pintu gerbang Taejongdae, pengunjung dapat melihat Monument of Medical Support for Veteran of the Korean War.

Monumen ini didedikasikan untuk mengenang jasa-jasa para sukarelawan asing dari enam negara, yang bertugas untuk memberi bantuan medis kepada tentara Korea atau masyarakat sipil yang terluka akibat perang.
 
Jalan menuju Taman Taejongdae. (ANTARA / Maria Rosari).


Jalan dari pintu gerbang menuju ke dalam taman, menanjak dan berkelok-kelok. Dari pintu gerbang hingga ke dalam taman berjarak lebih dari satu kilometer. Kendati demikian, kendaraan pribadi dilarang masuk ke wilayah Taman Taejongdae.

Oleh sebab itu pengelola menyediakan kereta khusus yang disebut Danubi Train, untuk mengantar dan menjemput pengunjung menuju pusat Taejongdae dari pintu gerbang. Danubi Train akan berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di beberapa titik.

Meskipun mengunjungi Taejongdae tidak dipungut biaya alias gratis, pengunjung yang menggunakan Danubi Train harus membayar 3.000 Won (Rp36.000-an) untuk dewasa dan 1.500 Won (Rp18.000-an) untuk anak-anak.
 
Danubi Train (ANTARA / Maria Rosari)


Namun bila pengunjung yang menyukai hiking biasanya memilih untuk berjalan kaki, sambil menikmati birunya laut dan hijaunya hutan eco di kawasan ini.

Belajar sejarah

Pemberhentian pertama kereta Danubi adalah Observation Deck. Pengunjung dapat meligat gedung Observation Deck yang unik berbentuk oval dan pipih menyerupai pesawat luar angkasa.

Gedung ini berada di pinggir tebing dekat dengan jalan utama yang dilalui Danubi Train.
 
Observation Deck (ANTARA / Maria Rosari)


Dari balkon gedung, pengunjung dapat melihat Pulau Oryuk dengan jarak yang cukup dekat. Bila cuaca sedang bagus dan tidak berkabut, pengunjung dapat melihat Pulau Tsushima yang merupakan bagian dari kepulauan di Jepang.

Di halaman depan gedung observasi ini, terdapat satu patung ibu dengan dua anaknya yang bernama Mojasang.

Patung ini dibangun untuk mengingatkan seluruh korban perang yang kehilangan sanak saudaranya usai Perang Korea pada 1969, supaya tetap memiliki semangat untuk hidup.

 
Mojasang Statue atau Patung Ibu dan Anak (ANTARA / Maria Rosari)


Usai Perang Korea, banyak masyarakat Korea Selatan yang memurusan untuk melakukan bunuh diri, karena merasa sebatang kara dan tidak memiliki apapun.

Patung ini mengingatkan para korban, supaya mengenang dan mengingat kasih sayang ibu agar tidak melakukan bunuh diri.

Di pemberhentian kedua, pengunjung dapat menikmati keindahan alam di Taman Taejongdae melalui Mercusuar Yeongdo.

Mercusuar yang merupakan ikon dari Kota Busan ini, didirikan pada Desember 1906. Bangunan ini juga kerap disebut Mercusuar Taejongdae karena berada di kawasan Taman Taejongdae.
 
Yeongdo Lighthouse (ANTARA / Maria Rosari)


Pada tahun 2001, mercusuar ini ditutup untuk umum selama tiga tahun untuk direnovasi. Pada 2004 bangunan ini kembali dibuka untuk umum. Di samping bangunan mercusuar, turut dibangun beberapa fasilitas penunjang kebudayaan seperti perpustakaan, ruang sinematografi, ruang pameran dan galeri.

Di tebing atas mercusuar, terdapat undakan yang dipersembahkan untuk mengenang jasa-jasa para pemimpin Perang Korea.

Di undakan tersebut terdapat sejumlah patung para pemimpin perang dan orang-orang yang dianggap berjasa karena telah memberikan kontribusi kepada negara, selama masa perang.
 
Patung untuk mengenang para pemimpin Perang Korea. (ANTARA / Maria Rosari)


Di depan undakan, terdapat balkon pinggir tebing yang dahulu digunakan para pemimpin Perang Korea untuk memantau musuh (Jepang).

Dari tempat ini, pengunjung juga dapat melihat batu Mangbu yang berada di tebing bebatuan Sinseon.

Batu yang berdiri tinggi di atas batuan rata, bentuknya menyerupai seorang perempuan yang sedang berdiri. Bila di Indonesia terkenal dengan legenda Malin Kundang, maka di Korea Selatan dikenal legenda Batu Mangbu.

Konon dahulu ada seorang wanita yang menunggu suaminya yang diculik tentara Jepang ke Pulau Tsushima. Wanita ini kemudian berdiri di pinggir tebing tanpa mengenal waktu hingga kemudian dia berubah menjadi batu di tempat itu.
 
Batu Mangbu. (ANTARA / Maria Rosari)


Di Taman Taejongdae juga terdapat dua kuil yang dilewati Danubi Train. Dua kuil itu adalah; Kuil Taejongsa dan Kuil Gumyeongsa.

Kuil Taejongdae merupakan tempat ibadah yang didonasikan oleh pemerintah Sri Lanka. Kuil ini terkenal dengan keindahan taman bunga hidrangea yang selalu bermekaran pada bulan Juli.

Sementara itu Kuil Gumyeongsa awalnya hanya berupa tenda di pinggir tebing, yang digunakan untuk menyelamatkan orang-orang yang hendak bunuh diri akibat Perang Korea. Pemerintah kemudian membangun kembali kuil ini pada 1969.


Baca juga: Lima lokasi syuting "Kingdom" di Korsel yang patut dikunjungi

Baca juga: Pesona Nami Island pada musim panas Korea

Baca juga: Mengabadikan cinta di Menara Namsan, Seoul

Oleh Maria Rosari Dwi Putri
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Masjid Qiblatain saksi sejarah berpindahnya kiblat umat Islam

Komentar