Kalangan swasta dan LSM cetak petani muda

Kalangan swasta dan LSM cetak petani muda

Jurnalis dari berbagai media nasional mengikuti sejumlah kegiatan di The Learning Farm, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, bersama Kecap Bango, yang tengah mendidik puluhan petani muda dari berbagai wilayah di Jawa Timur, Kamis (14/11/2019) . ANTARA/Ahmad Fikri

Setelah menjalani pendidikan, mereka kembali ke kampung halamnnya masing-masing untuk mengembangkan ilmu yang mereka dapatkan. Tercatat sebagian besar sudah sukses mengembangkan usaha di bidang pertanian hingga pemasaran
Cianjur (ANTARA) - Kalangan swasta seperti Kecap Bango bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) The Learning Farm Cianjur, Jawa Barat, mencetak ribuan petani muda guna mengembangkan pertanian modern di daerah asal mereka di berbagai wilayah di Indonesia, dengan program pelatihan selama 100 hari tanpa dipungut biaya.

Tercatat hingga saat ini setelah 14 tahun berdiri TLF di bawah naungan Yayasan Karang Widia di Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur, telah mencetak 1.300 petani muda yang 80 persen diantaranya telah mengembangkan berbagai usaha pertanian dan budidaya ikan air tawar serta hewan ternak lainnya, sedangkan 20 persen lainnya terlibat sebagai pegawai atau motifator dibidang yang sama.

Eksekutif Direktur TLF Yayasan Karang Widia, Nona kepada wartawan Kamis, mengatakan pendidikan pertanian yang selama ini telah berjalan, tanpa bantuan pemerintah, namun mendapat dukungan penuh dari sejumlah pihak swasta terutama yang bergerak di bidang pertanian atau hasil pertanian seperti Kecap Bango dan sejumlah LSM luar negeri seperti WWF.

"Tidak hanya pendidikan pertanian yang mereka dapatkan untuk dikembangkan, namun pendidikan kepribadian sampai ilmu managemen, komputer serta bahasa Inggris didapatkan selama menjalani pendidikan di TLF. pemateripun berasal dari beragam disiplin ilmu yang mumpuni," katanya.

Selama menjalani pendidikan di Cianjur, peserta didik yang sebagian besar berasal dari luar daerah seperti Jateng, Jatim, Sulawesi hingga Papua, ditanamkan kedisiplinan mulai dari bangun tidur sampai berkebun dan mengembangkan keahlian lain setiap harinya sesuai program yang diberikan, hingga seratus hari mereka tidak diizinkan pulang.

"Setelah menjalani pendidikan, mereka kembali ke kampung halamnnya masing-masing untuk mengembangkan ilmu yang mereka dapatkan. Tercatat sebagian besar sudah sukses mengembangkan usaha di bidang pertanian hingga pemasaran," katanya.

Senior brand manager Bango, Nando Kusmanto, mengatakan program Petani Muda Bango bersama TLF merupakan Kali pertama sebagai bentuk kepedulian Bango terhadap rendahnya minat pemuda diberbagai daerah untuk turun ke ladang sebagai petani khususnya di wilayah yang selama ini merupakan binaan pihak perusahaan.

"Untuk mengumpulkan 35 orang pemuda untuk mendapatkan pendidikan pertanian dengan cara modern saat ini sangat sulit karena pemikiran mereka bidang pertanian yang tidak terlalu menjanjikan hasil maksimal, sehingga mereka lebih memilih bidang lain," katanya.

Sehingga pihaknya tergugah untuk mendidik pemuda di daerah yang selama ini menjadi pemasok bahan baku kecap yang diproduksi Bango, seperti Kabupaten Pacitan dan Jember, untuk mendapat pendidikan pertanian secara modern, agar kedepan dapat menulrkannya pada pemuda lain di daerah tempat tinggalnya.

"Kami memberikan kemudahan bagi mereka selama menjalani pendidikan melalui hasil penjualan produk dalam kemasan khusus Bango Edisi Cita Malika. Target kami setiap angkatan jumlah pemuda yang ikut pendidikan terus bertambah dari setiap wilayah di Indonesia," katanya.

Ia menambahkan, kedepannya Bango akan membuka peluang bagi pemuda diberbagai daerah untuk ikut dalam program tersebut yang akan dibuka tahun depan dengan harapan pertanian di Indonesia lebih maju dan target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan akan tercapai.

Baca juga: Duta Petani Muda bangun kesadaran untuk jadi petani

Baca juga: Kementan targetkan cetak 1 juta petani milenial hingga 2020

 

Pewarta: Ahmad Fikri
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cianjur, pelanggaran pelaksanaan pemilu tertinggi di Jabar

Komentar