Laporan dari China

800 tentara ASEAN-Plus latihan bersama di Guilin

800 tentara ASEAN-Plus latihan bersama di Guilin

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN di Bangkok, Selasa (30/7/2019). (Kemlu RI)

Latihan ini telah menjadi kegiatan berskala terbesar dalam kaitannya dengan penanggulangan terorisme sejak EWG Kontra-Terorisme terbentuk pada 2011
Beijing (ANTARA) - Lebih dari 800 tentara dari negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dan mitra wicaranya (ASEAN-Plus) mengikuti latihan militer bersama di Kota Guilin, China, mulai Rabu (13/11).

Latihan tersebut dimaksudkan untuk menangkal terorisme di kawasan, tulis media resmi setempat, Kamis.

Selain itu, program latihan tersebut juga menjadi forum dialog untuk meningkatkan koordinasi dan mekanisme bersama dalam menghadapi ancaman terorisme di kawasan.

Latihan di dalam kerangka kerja Gugus Tugas Pakar Kontra-Terorisme (EWG) Pertemuan Para Menteri Pertahanan ASEAN-Plus (ADMM) di salah satu kota tujuan wisata di Daerah Otonomi Guangxi itu akan berakhir hingga 22 November 2019.

"Latihan ini telah menjadi kegiatan berskala terbesar dalam kaitannya dengan penanggulangan terorisme sejak EWG Kontra-Terorisme terbentuk pada 2011," kata Komandan Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) Wilayah Selatan, Letnan Jenderal Zhang Jiang, sebagaimana dikutip China Daily.

"Latihan ini sekaligus ajang pertukaran dan kerja sama antara ASEAN dan negara mitra wicara untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi ancaman terorisme di kawasan," ujarnya menambahkan.

ADMM-Plus terdiri dari 10 negara anggota ASEAN dan delapan negara mitra wicara, termasuk China dan Amerika Serikat, untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan keamanan.

Program tersebut ditetapkan oleh lima anggota EWG untuk memfasilitasi kerja sama keamanan bahari, perbantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, operasi misi perdamaian, dan perawatan kesehatan militer.

Para pejabat militer dan prajurit dapat saling belajar dalam membangun persahabatan dan saling percaya, demikian pendapat Mayor Jenderal Thanongsak Tannarat dari Angkatan Bersenjata Thailand (RTAF).

Bahkan menurut dia, yang lebih penting lagi dalam program tersebut adalah meningkatkan kerja sama antiterorisme di kawasan.

Latihan tersebut memang difokuskan pada misi penanggulangan terorisme di kawasan urban. "Ini eksplorasi mendalam untuk operasi kontraterorisme," ujar Zhang.

Baca juga: China-ASEAN sepakat perkuat kerja sama

Latihan tersebut juga sangat efektif dalam meningkatkan kompetensi misi bersama kontraterorisme, demikian Mayor Jenderal Wang Suocheng selaku komandan satuan tugas latihan bersama.

"Sehingga beberapa tim dari berbagai negara dapat mengatasi tantangan bersama dalam menghadapi persoalan selama menjalankan misi kontraterorisme. Tim tersebut mampu menjalankan operasi khusus dan serangan udara," ujarnya.

Beberapa pasukan dari negara berbeda yang terlibat dalam latihan tersebut menyadari adanya keterbatasan komunikasi, namun mereka mampu menjalankan program latihan dengan baik.

"Meskipun kami berbicara dalam bahasa yang berbeda, kami mudah memberi dan menerima komando dengan isyarat tangan yang taktis," kata Mulla Abidali, seorang prajurit Angkatan Bersenjata India (IA).

Menurut dia, program tersebut sangat penting bagi pasukan militer untuk bekerja bersama memerangi terorisme yang saat ini menunjukkan adanya eskalasi ancaman di berbagai tempat, termasuk India.

Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing Brigadir Jenderal TNI Kuat Budiman juga menganggap penting latihan bersama di wilayah paling selatan China itu dengan mengirimkan sejumlah personel TNI untuk bergabung.


Baca juga: Konferensi ASEAN-China akan hasilkan kesepakatan promosi hubungan

Baca juga: Indonesia kembali jadi tuan rumah Konferensi ASEAN-China


 

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Polri sebut Telegram masih jadi andalan teroris berkomunikasi

Komentar