BMKG belum cabut status potensi tsunami pascagempa Malut

BMKG belum cabut status potensi tsunami pascagempa Malut

Gempa M 7,1 di perairan Maluku, Kamis (14/11/2019). (ANTARA/Dok. BMKG)

Jakarta (ANTARA) -
Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hingga Jumat dinihari pukul 01.08 WIB belum mencabut status potensi tsunami pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara pada Kamis malam sekitar pukul 23.17 WIB.
 
Gempa tersebut dirasakan di sejumlah daerah seperti Halmahera (Maluku Utara), Kota Bitung (Sulut), dan Kota Ternate (Malut).
 
BMKG awalnya melaporkan gempa terjadi dengan magnitudo 7,4. Kemudian BMKG memutakhirkan bahwa gempa terjadi dengan magnitudo 7,1.

Gempa dirasakan dalam skala IV-V MMI yang artinya gempa dirasakan banyak. Lokasi pusat gempa ini berada di koordinat 1,67 Lintang Utara dan 126,39 Bujur Timur. Pusat gempa ini berlokasi di 137 km barat laut Jailolo, Malut dengan kedalaman 73 km.
 
BMKG pun mengingatkan ada pemerintah daerah dan masyarakat di tiga daerah yang berpotensi tsunami, yakni Halmahera, Kota Bitung, dan Kota Ternate karena berstatus waspada.
 
Namun, pada pukul 23.33 WIB, BMKG mencabut status waspada di Kota Halmahera dan Kota Ternate.

Baca juga: BMKG ingatkan pemda waspada potensi tsunami akibat gempa di Malut

Baca juga: BMKG catat sembilan kali gempa susulan

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Suasana di Ternate Selatan pascagempa magnitudo 7,1

Komentar