Bolivia tuduh Kuba hasut kerusuhan, usir pejabat Venezuela

Bolivia tuduh Kuba hasut kerusuhan, usir pejabat Venezuela

Anggota militer berpatroli di La Paz, Bolivia, Selasa (12/11/2019). REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/AWW/djo

La Paz, Bolivia (ANTARA) - Pemerintah sementara Bolivia pada Jumat (15/11) menyatakan telah meminta para pejabat Venezuela untuk meninggalkan negeri itu, dan menuduh orang Kuba, termasuk dokter, menghasut kerusuhan setelah pengunduran diri presiden Evo Morales.

Menteri Luar Negeri baru Karen Longaric mengatakan Kuba akan memulangkan 725 warga negaranya, kebanyakan dokter medis, setelah perempuan itu mengangkat keprihatinan mengenai dugaan keterlibatan mereka dalam protes. Ia mengatakan ia juga telah meminta semua diplomat Venezuela pergi karena alasan yang sama.

Kebijakan luar negeri itu diambil setelah protes terhadap pemerintah Presiden sementara konservatif Jeanine Anez, yang berumur empat-hari, membuat keruh negeri tersebut di tengah pergolakan politik terbesar selama lebih dari satu dasawarsa.

Venezuela dan Kuba adalah sekutu penting Morales, dari sayap-kiri, yang memangku jabatan sebagai presiden pertama dari suku pribumi di negeri itu pada 2006 dan mundur di bawah tekanan pada Ahad (10/11) sehubungan dengan pemilihan umum 20 Oktober, yang jadi sengketa.

Pemungutan suara tersebut memberi dia kemenangan mutlak tapi dinodai oleh dugaan kecurangan, sehingga menyulut protes luas anti-pemerintah, yang telah berubah jadi kerusuhan.

Morales dan wakil presiden melarikan diri dari negeri tersebut pada awal pekan ini untuk menerima suaka dari Meksiko. Tapi protes oleh pendukung Morales telah berlanjut di Ibu Kota Bolivia, La Paz, di dekat El Alto, dan Kota Cochabamba di bagian tengah negeri itu.

Di dalam satu pernyataan, Kementerian Luar Negeri Kuba membantah pada para dokternya telah mendukung protes, demikian laporan Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu. Kementerian Luar Negeri Venezuela belum menanggapi permintaan komentar.

Kedua negara tersebut telah mendukung pernyataan Morales bahwa ia digulingkan dalam satu kudeta dukungan negara asing.

Negara-negara lain di Karibia, termasuk Brazil dan Ekuador, telah melakukan tindakan serupa terhadap orang Kuba dalam beberapa bulan belakangan ini.

Negara pulau di Karibia itu memiliki layanan kesehatan bagus dan memberi hasil dengan mengirim lebih dari 50.000 pekerja kesehatan ke lebih dari 60 negara. Kuba telah dituduh memperlakukan dokternya dengan buruk dan menekan mereka agar ikut dalam kegiatan politik, tapi Havana telah membantah tuduhan tersebut.

Polisi di La Paz, Bolivia, menembakkan gas air mata ke arah pemrotes pada Jumat (15/11), sementara sekolah tetap ditutup dan pengiriman bahan bakar terganggu oleh blokade jalan.

Media lokal memperlihatkan benturan sengit antara petani koka dan polisi di Wilayah Cochabamba, kubu dukungan buat Morales.

Ombudsman resmi Bolivia mengatakan lima orang tewas di Kota Kecil Sacaba dan lebih dari 30 orang cedera pada Jumat, dan menyerukan penyelidikan mendesak pemerintah mengenai penggunaan kekerasan oleh polisi dan militer.

Sumber: Reuters

Baca juga: Morales nyatakan akan kembali ke Bolivia
Baca juga: Mantan Presiden Morales minta PBB tengahi krisis Bolivia
Baca juga: Terima suaka, mantan presiden Bolivia angkat kaki ke Meksiko

 

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PUPR targetkan pembangunan pasca rusuh Wamena selesai April 2020

Komentar