Personel BPBD Yogyakarta targetkan membangun "repeater" 30 menit

Personel BPBD Yogyakarta targetkan membangun "repeater" 30 menit

Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta Hari Wahyudi. ANTARA/Eka Arifa Rusqiyati/am.

salah satu fokus penanganan bencana adalah menjaga agar komunikasi tetap bisa dilakukan
Yogyakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Yogyakarta yang fokus pada mitigasi dan komunikasi bencana menargetkan personel untuk mampu membangun stasiun radio pemancar ulang atau “repeater” dalam waktu 30 menit jika terjadi bencana besar.

“Dari latihan maupun simulasi yang kami lakukan beberapa kali, pembangunan stasiun radio pemancar ulang (RPU) atau ‘repeater’ ini bisa dilakukan dalam waktu 30 menit. Harapannya bisa lebih cepat lagi,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Hari Wahyudi di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, pembangunan stasiun RPU tersebut sangat penting dilakukan jika seluruh jaringan komunikasi khususnya provider telepon tidak berfungsi saat terjadi bencana besar di Yogyakarta.

Baca juga: Penguat sinyal peringatan tsunami Pesisir Selatan hilang

Ia mengatakan, penguatan sektor komunikasi tersebut didasarkan pada berbagai kejadian bencana besar termasuk gempa besar yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada 2006, hingga gempa Lombok dan gempa Palu yang menyebabkan terganggunya komunikasi telepon selama beberapa hari.

“Radio memiliki keunggulan sehingga salah satu fokus penanganan bencana adalah menjaga agar komunikasi tetap bisa dilakukan,” katanya.

Selain membangun stasiun radio pemancar ulang dalam waktu secepatnya, BPBD Kota Yogyakarta juga terus mencari lokasi terbaik untuk mendirikan stasiun “repeater” tersebut. Saat ini, salah satu lokasi yang dianggap cukup strategis adalah di simpang Gondolayu Yogyakarta.

Di simpang tersebut, gelombang radio bisa dipancarkan dan diterima dengan cukup jernih dari berbagai sudut Kota Yogyakarta.

“Tetapi, kami tidak hanya akan mengandalkan lokasi tersebut untuk membangun stasiun ‘repeater’. Perlu dicari lagi lokasi alternatif lain. Mungkin saja saat terjadi bencana, simpang Gondolayu tidak bisa digunakan untuk membangun stasiun ‘repeater’,” katanya.

Ia berharap, ada beberapa pilihan lokasi pembangunan stasiun radio pemancar ulang yang bisa dijadikan alternatif saat terjadi bencana besar.

Selain membangun fasilitas, BPBD Kota Yogyakarta juga membekali Kampung Tangguh Bencana (KTB) yang sudah terbentuk dengan ‘handy talky’ (HT) dan peralatan penanganan bencana seperti genset, gergaji mesin, pompa air, selang, motor roda tiga, serta tali ‘rescue’.

“Khusus untuk HT, belum diberikan ke seluruh KTB yang sudah terbentuk. HT baru akan diserahkan jika personel KTB lolos ujian pelatihan penggunaan HT,” katanya.

Ia mengatakan, jika nantinya seluruh KTB memiliki HT, maka dimungkinkan akan ada 1.000 unit HT yang aktif sehingga jika terjadi bencana maka jaringan radio akan sangat padat. Di Kota Yogyakarta terdapat 169 kampung dan saat ini sebanyak 115 kampung di antaranya sudah ditetapkan sebagai kampung tangguh bencana.

“Kalau penggunanya tidak memiliki etika, maka dikhawatirkan justru akan mengganggu komunikasi dalam penanganan bencana. Oleh karenanya, ada latihan khusus penggunaan HT yang kami lakukan,” katanya.

Selain itu, Hari memastikan jika BPBD Kota Yogyakarta juga sudah memiliki izin frekuensi radio baik di VHF, UHF maupun HF dan saat ini dalam proses pengurusan izin telekomunikasi khusus (telsus).

Baca juga: Kementerian Kominfo gelar operasi penertiban repeater ilegal

Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenkominfo sosialisasikan keterbatasan spektrum frekuensi

Komentar