Bahana Sekuritas pangkas proyeksi IHSG tahun ini

Bahana Sekuritas pangkas proyeksi IHSG tahun ini

Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj.

Pencapaian ini, membuat Bahana memangkas proyeksi indeks harga saham gabungan atau IHSG ke level 6.085 dari perkiraan semula di level 6.560
Jakarta (ANTARA) - Bahana Sekuritas memangkas proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini usai mengamati kinerja seluruh emiten hingga kuartal III-2019.

Dari pantauan Bahana Sekuritas terhadap kinerja keuangan sekitar 100 perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), secara keseluruhan mencatat kinerja cukup rendah, tercermin dari perolehan laba bersih yang tercatat negatif sebesar 4,2 persen, lebih rendah dari perkiraan Bahana yang semula memperkirakan akan tumbuh positif dikisaran 9 persen.

"Pencapaian ini, membuat Bahana memangkas proyeksi indeks harga saham gabungan atau IHSG ke level 6.085 dari perkiraan semula di level 6.560," kata Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi dalam keterangan resmi yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Baca juga: IHSG awali pekan di zona merah

Bahana memperkirakan, pada kuartal keempat, pertumbuhan laba operasional masih akan tertekan untuk sebagian besar emiten, kecuali untuk emiten sektor rokok, perkebunan dan perbankan.

Namun, dengan tren penurunan suku bunga dan rupiah yang menguat, akan membantu laba emiten dari sektor telekomunikasi dan semen yang cukup tergantung pada penguatan rupiah karena banyak mengeluarkan biaya dalam dolar.

Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) itu memperkirakan laba bersih emiten akan mengalami pertumbuhan sekitar 2-3 persen untuk keseluruhan 2019.

Beberapa risiko yang patut dicermati pada sisa tahun ini salah satunya adalah realisasi penerimaan pajak selama delapan bulan pertama 2019, yang masih tercatat sebesar 51 persen dari target APBN 2019 yang ditetapkan sebesar Rp1.577,56 triliun.

"Hal ini bisa berdampak pada tertundanya belanja pemerintah yang bisa mempengaruhi emiten konstruksi, perbankan dan telekomunikasi yang terkait dengan proyek pemerintah," ujar Lucky.

Dalam catatan Bahana dari kinerja keuangan 100 emiten yang diamati, secara keseluruhan membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,6 persen untuk periode Januari-September 2019, terutama ditopang oleh sektor perbankan, semen, kesehatan dan obat-obatan, sedangkan sektor konstruksi, perkebunan dan properti membukukan kinerja negatif.

Selama sembilan bulan pertama tahun ini, marjin laba kotor mencatat rata-rata pertumbuhan sebesar 2,9 persen secara tahunan dengan kinerja dari sektor konsumer terutama kontribusi dari PT Gudang Garam dan PT Indofood CBP, sedangkan emiten dari sektor perkebunan, konstruksi dan unggas membukukan kinerja negatif.

Sedangkan laba operasional hanya tumbuh sebesar 1,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, karena turunnya kinerja emiten dari sektor unggas, perkebunan dan konsumer.

"Ke depan, dengan adanya rencana pemerintah untuk memotong pajak penghasilan perusahaan, diperkirakan akan ada potensi pembayaran dividen yang lebih besar dari BUMN seperti dari PT Telekomunikasi Indonesia yang memiliki arus kas yang besar dengan rasio utang terhadap modal yang rendah," ujar Lucky.

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) dengan tingkat kecukupan modal yang tinggi serta dengan tingkat provisi yang semakin berkurang diperkirakan akan membukukan kinerja positif sampai akhir tahun.

Baca juga: IHSG akhir pekan menguat ditopang surplus neraca dagang

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden Tutup IHSG Tertinggi Dalam Sejarah

Komentar