Laporan dari Xinjiang

10 pemred media arus utama Indonesia kunjungi Xinjiang

10 pemred media arus utama Indonesia kunjungi Xinjiang

Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun swafoto bersama para pemimpin media arus utama di Indonesia di Wisma Duta KBRI Beijing, Minggu (17/11) malam, selepas kunjungan ke Daerah Otonomi Xinjiang. Sebanyak 11 pemimpin media melihat secara langsung situasi daerah otonomi yang mayoritas dihuni oleh etnis minoritas Muslim Uighur. ANTARA/M. Irfan Ilmie/tm

Beijing (ANTARA) - Sebanyak 10 pemimpin redaksi media utama arus utama di Indonesia melakukan kunjungan ke Xinjiang, daerah otonomi di China yang paling banyak dihuni kelompok etnis minoritas Muslim Uighur.

Para pemimpin media berpengaruh selama dua hari pada 14-15 November 2019 tersebut berkunjung untuk melihat situasi terkini dan berbagai potensi di wilayah paling barat China itu.

"Kami sempat shalat Jumat di sana," kata Pemimpin Redaksi Media Indonesia Usman Kansong ketika ditemui di Wisma Duta KBRI Beijing, Minggu (17/11) malam.

Selain ditemui wakil gubernur, para pemimpin media tersebut juga mendapat penjelasan dari Ketua Asosiasi Muslim China (CIA) Xinjiang Imam Abdur Roqib.

Setelah melakukan kunjungan selama dua hari di Xinjiang, mereka bertemu Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun.

Sebanyak 10 pemimpin redaksi yang melakukan kunjungan ke Xinjiang itu adalah Suryo Pratomo (Metro TV), Selamun Yoanes Bosko (Metro TV), Primus Dorimulu (Investor Daily), Usman Kansong (Media Indonesia), Wahyu Muryadi (Tempo TV), Arif Budisusilo (Bisnis Indonesia), Metta Darmasaputra (Katadata), Irfan Junaidi (Republika), Arifin Asydhad (Kumparan), dan Iswara Darmayana (Rakyat Merdeka).

Sejak pemerintah setempat secara resmi membuka museum serangan kelompok garis keras di Ibu Kota Xinjiang di Urumqi pada akhir 2018, kunjungan diplomat asing, organisasi nonpemerintah, dan awak media dari sejumlah negara terus meningkat.
 
Warga Xinjiang berpose dalam balutan baju tradisional Uighur. (ANTARA/Siti Zulaikha/tm)


Organisasi dan pemerhati HAM dunia menyoroti upaya yang mereka anggap sebagai deradikalisasi dan deektremisasi oleh Beijing terhadap kalangan etnis minoritas Uighur melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi.

Beijing menampik tuduhan itu dengan berdalih bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan sumber daya manusia etnis Uighur guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi agar setara dengan daerah-daerah lainnya di China.

Gubernur Xinjiang Shohrat Zakir sebelumnya di Beijing juga menyatakan bahwa saat ini hampir 100 persen peserta pelatihan sudah dinyatakan lulus dan telah meninggalkan kamp-kamp tersebut untuk dipekerjakan di beberapa sektor industri dan merintis usaha secara mandiri.

"Sayang di sana cuma dua hari. Nanti saya akan cari waktu lagi," kata Presiden Direktur Adaro Boy Garibaldi Thohir yang turut mendampingi para pemred dalam kunjungan ke Xinjiang itu.  

Baca juga: Xinjiang, jantung Jalur Sutera nan Rupawan

Baca juga: China rilis buku putih kamp vokasi Xinjiang

 

Menelisik jejak kehidupan masyarakat Xinjiang

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar