Antisipasi hujan, PUPR segera rampungkan Terowongan Nanjung Bandung

Antisipasi hujan, PUPR segera rampungkan Terowongan Nanjung Bandung

Proyek Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Dokumentasi Kementerian PUPR

Terowongan air ini dibangun sebagai pelengkap dari pembangunan kolam retensi di Bale Endah
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) segera menuntaskan pembangunan Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dalam rangka mengantisipasi musim hujan dalam waktu dekat.

"Terowongan air ini dibangun sebagai pelengkap dari pembangunan kolam retensi di Bale Endah untuk mengurangi masalah banjir di Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin.

Baca juga: Presiden Joko Widodo cek pengerjaan terowongan Nanjung

Pembangunan Terowongan Nanjung ini merupakan bagian Sistem Pengendalian Banjir Sungai Citarum. Pembangunan Terowongan Nanjung yang berada di kawasan Hulu di Curug Jompong akan memperlancar aliran Sungai Citarum ke hilir sehingga lama dan luas genangan banjir di kawasan cekungan Bandung bisa berkurang.

Terowongan Nanjung terdiri atas dua terowongan dengan panjang masing-masing 230 meter dan diameter 8 meter. Kedua terowongan akan mengurangi banjir di daerah Baleendah, Dayehkolot, Andir, dan sekitarnya seluas 700 hektar yang dihuni sekitar 150.00 jiwa. Dengan kata lain akan mengurangi total luas genangan di Kabupaten Bandung dari semula 3.461 hektare menjadi 2.761 hektar. Keberadaan terowongan juga akan meningkatkan kapasitas Sungai Citarum dari 570 meter kubik per detik menjadi 669 meter kubik per detik.

Infrastruktur pengendali banjir ini juga dilengkapi oleh check dam di sisi outlet yang akan menahan sedimen agar tidak masuk ke Waduk Saguling yang berada di bawahnya. Pada musim hujan aliran Sungai Citarum sebagian besar dialirkan melalui terowongan. Pada musim kemarau, pintu terowongan akan ditutup sehingga dapat dilakukan pengerukan sedimen.

Pembangunan Terowongan Nanjung telah dimulai pada November 2017 oleh kontraktor PT Wijaya Karya'PT. Adhi Karya (KSO) dengan biaya APBN sebesar Rp316,01 miliar (kontrak tahun jamak atau multi years contract). Progres konstruksi saat ini mencapai 95, 22 persen dan ditargetkan selesai akhir 2019.

Dalam penanganan banjir Sungai Citarum saat ini juga tengah dibangun Floodway Cisangkuy dengan progres konstruksi mencapai 44,35 persen dan ditargetkan selesai tahun 2020. Pembangunannya dikerjakan dalam dua paket, yaitu paket pertama sepanjang 3,75 km dengan anggaran sebesar Rp311,35 miliar yang berfungsi mengurangi genangan banjir seluas 5,91 hektar dan meningkatkan kapasitas tampung Sungai Cisangkuy dari 80 meter kubik per detik menjadi 220 meter kubik per detik.

Paket kedua dibangun sepanjang 10,5 km dengan biaya Rp320,43 miliar yang bertujuan untuk mengurangi risiko banjir di kawasan Bandung Selatan seluas 31,5 hektar dengan meningkatkan kapasitas tampung Sungai Cisangkuy dari 80 meter kubik per detik menjadi 220 meter kubik per detik.

Pembangunan sejumlah infrastruktur pengendali banjir di Provinsi Jawa Barat tersebut merupakan bagian dari penataan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum atau dikenal dengan Program Citarum Harum. Hal ini sejalan dengan amanat Presiden melalui Perpres No 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Baca juga: Pembangunan Terowong Nanjung sudah 80 persen
Baca juga: Presiden jelaskan hambatan pembangunan terowongan Nanjung


Pewarta: Aji Cakti
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PUPR targetkan pembangunan pasca rusuh Wamena selesai April 2020

Komentar