Mulai berkurang pencemaran minyak di Pulau Belakangpadang Batam

Mulai berkurang pencemaran minyak di Pulau Belakangpadang Batam

Limbah minyak hitam yang menggenang di sekitar Pelabuhan Belakangpadang Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. (FOTO ANTARA/HO-Dok Camat Belakangpadang)

Secara umum sudah berkurang sejak disemprot kemarin
Batam (ANTARA) - Pencemaran minyak hitam di Perairan Pulau Belakangpadang Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau yang terjadi sejak Sabtu (16/11) mulai berkurang pada Senin.

"Pagi tadi masih ada sedikit di sekitar pelabuhan. Tinggal sedikit lagi, mudah-mudahan terus berkurang dan tidak ada lagi," kata Camat Belakangpadang Yudi Admaji di Pulau Belakangpadang.

Menurut dia, kadar minyak tergenang berkurang berkat penyemprotan oil spill dispersant (OSD) yang dilakukan tim Pertamina Pulau Sambu.

"Secara umum sudah berkurang sejak disemprot kemarin," kata Yudi Admaji.

Sementara itu, warga yang tinggal di Pulau Belakangpadang mengeluhkan dampak genangan minyak yang mencemari pulau penyangga Kota Batam Kepulauan Riau itu.

"Banyak sekali kerugian kami, rumah, 'boat' jadi hitam, bau minyak," kata warga Pulau Belakangpadang, Azhar.

Selain itu, alat tangkap nelayan juga rusak akibat minyak yang lengket.

Warga Belakangpadang lainnya, Ardi berharap pemerintah dan aparat berwenang segera mengetahui pihak yang membuang limbah.

"Mudah-mudahan segera diketahui pelakunya dan ditindak sesuai hukum yang berlaku," kata dia.

Sementara itu, tim dari Pertamina Sambu bersama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menyebarkan OSD untuk mengurangi dampak pencemaran minyak hitam di sana.

"OSD disemprot untuk mengurangi konsentrasi dan mengurai minyak agar tidak berbahaya bagi lingkungan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Herman Rozie.

Baca juga: Warga keluhkan cemaran minyak di Perairan Pulau Belakangpadang

Baca juga: Tim sebar OSD tangani minyak hitam di Perairan Batam

Baca juga: Minyak hitam cemari perairan Batam

Pewarta: Yuniati Jannatun Naim
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Plastik paling mendominasi pencemaran laut di Banda Aceh

Komentar