Mahasiswi Palestina dihantam tabung gas air mata pasukan Israel

Mahasiswi Palestina dihantam tabung gas air mata pasukan Israel

Ilustrasi: Warga Palestina yang berdemo berlari menghindari tabung gas airmata yang ditembakkan pasukan Israel saat aksi protes dekat pemukiman Yahudi Beit El, di wilayah pendudukan Israel, Tepi Barat, Senin (9/9/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamad Torokman/wsj.

Tulkarem, Palestina (ANTARA) - Seorang mahasiswi menderita luka kritis setelah dihantam tabung gas air mata di wajahnya dan dua orang lagi ditembak dengan peluru aktif hingga cedera saat pasukan Israel menyerang aksi-duduk oleh mahasiswa Palestina.

Aksi duduk itu digelar di Technical University Palestina --Kadoorie-- untuk mendukung juru foto yang cedera, Moath Amarneh, di Tulkarem, kata beberapa sumber medis.

Beberapa sumber medis di Rumah Sakit Umum Tulkarem -- Rumah Sakit Martir Dr. Pemerintah Thabet Thabet-- mengatakan kepada kantor berita Palestina, WAFA --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin, bahwa seorang mahasiswi dibawa ke rumah sakit dengan luka kritis di wajahnya. Wajahnya dihantam tabung gas air mata hingga ia mengalami luka bakar serius, gigi dan rahang patah.

Ia dirujuk ke Rumah Sakit Bedah Rafidia di Nablus karena luka serius yang dideritanya, kata sumber medis Palestina.

Dua mahasiswa lain ditembak dan cedera di kaki. Kondisi luka mereka digambarkan sebagai sedang.

Puluhan orang menderita sesak napas karena menghirup gas air mata. Mereka semua dirawat di lokasi.

Wartawan foto Moath Amarneh kehilangan mata kirinya setelah cedera serius akibat terkena peluru logam yang ditembakkan oleh seorang tentara Israel di wilayah Surif di Gubernuran Al-Khalil (Hebron), tempat ia meliput protes terhadap penyitaan lahan.

Sumber: WAFA

Baca juga: Serangan udara Israel tewaskan gerilyawan Palestina

Baca juga: Pembangunan RS Indonesia tetap jalan meski situasi Gaza memanas

Baca juga: Serangan udara Israel tewaskan gerilyawan Palestina

 

MUI bahas pembangunan Traumatic Healing Hospital di Palestina

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar