LIPI: Pembakaran plastik tak sempurna dapat bahayakan lingkungan

LIPI: Pembakaran plastik tak sempurna dapat bahayakan lingkungan

Ilustrasi - Warga membersihkan tumpukan sampah dari limbah rumah tangga yang memenuhi Kali Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu, (16/10/2019). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/ama.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan pembakaran plastik untuk bahan bakar industri dapat membahayakan lingkungan jika dilakukan tidak sempurna dan melepaskan zat berbahaya lain yang menempel pada mikroplastik.

"Plastik itu sifatnya unik, ketika plastik sudah masuk ke alam bisa menjadi media pembawa bahan pencemar lain. Ketika plastik sudah bercampur limbah, kita tidak pernah tahu limbahnya apakah domestik atau termasuk limbah berbahaya, apalagi sudah lama seperti yang diimpor bisa berbulan-bulan sampai ke Indonesia, itu ada kemungkinan menempel," ujar peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Muhammad Reza Cordova ketika dihubungi di Jakarta, Senin.

Meski belum ada penelitian yang menguji secara pasti tingkat bahaya mikroplastik dan dampaknya terhadap tubuh, tapi sifat unik tersebut bisa membuatnya mengandung zat lain, seperti ftalat atau dioksin yang terbukti memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

Mikroplastik menurut asalnya memang ada dua jenis, yang diproduksi sebagai mikroplastik, seperti microbeads pada kosmetik dan yang kedua adalah hasil degradasi dari plastik besar yang mungkin terdegradasi oleh cahaya matahari atau gelombang laut akhirnya menjadi mikroplastik, seperti yang ditemukan di biota laut.

Baca juga: LIPI segera teliti kandungan mikroplastik di lautan Indonesia

Sebelumnya, menurut penelitian International Pollutants Elimination Network (IPEN) mengungkap adanya senyawa berbahaya dioksin dalam sampel telur di dua desa di Jawa Timur.

Kandungan dioksin yang ditemukan di sampel telur ayam kampung di desa Bangun, Kabupaten Mojokerto dan Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, itu 70 kali lebih tinggi dari standar keselamatan yang ditetapkan badan kesehatan pangan Eropa yaitu European Food Safety Authority (EFSA).

Kandungan dioksin itu menurut uji laboratorium merupakan yang tertinggi kedua di Asia setelah hasil temuan di Vietnam akibat paparan bahan senjata kimia agen oranye yang digunakan Amerika Serikat saat perang Vietnam pada 1960-an.

Baca juga: LIPI: Butuh penelitian mendalam atas dampak mikroplastik pada manusia

Dioksin sendiri jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker, merusak sistem kekebalan tubuh dan pertumbuhan.

Kandungan bahan kimia terparah tercatat di dekat pabrik-pabrik tahu yang membakar plastik untuk bahan bakar di Desa Tropodo, Jawa Timur.

Praktik tersebut bisa saja menjadi salah satu penyebab adanya kandungan dioksin karena proses pembakaran yang tidak sempurna plastik dapat menghasilkan dioksin. Plastik harus dibakar di atas suhu 600 derajat celcius agar tidak menghasilkan dioksin, menurut peneliti polimer di Pusat Penelitian Kimia LIPI Witta Kartika Restu.

"Berbagai jenis plastik kalau tidak mau menghasilkan polusi maka harus dibakar dalam suhu yang tinggi, tapi kalau suhunya rendah kemungkinan ada senyawa dioksin yang akan terbakar," ujar Witta ketika dihubungi pada Senin.
Baca juga: Penelitian sebut mikroplastik terdapat di ikan, air minum hingga bir
Baca juga: Mikroplastik ditemukan dalam tinja menimbulkan kekhawatiran
Baca juga: Kampanye bahaya mikroplastik digelar Kota Makassar peringati Hari Kanker se-Dunia

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

7 dari 49 kontainer limbah impor telah direekspor

Komentar