Kurang perhatian dari kakak jadi motif penyiraman cairan kimia

Kurang perhatian dari kakak jadi motif penyiraman cairan kimia

Polisi menunjukkan tersangka penyiraman air keras, VY saat rilis kasus tersebut di Mapolda Metro Jaya, jakarta, Sabtu (16/11/2019). Polisi menangkap VY yang diduga melakukan penyiraman air keras berupa air soda api terhadap sembilan orang korban di tiga lokasi terpisah di Jakarta Barat. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Jakarta (ANTARA) - Penyidik Polda Metro Jaya untuk sementara menyimpulkan motif FY melakukan penyiraman cairan kimia adalah karena kurangnya perhatian dari kakak perempuannya.

Tersangka FY diketahui telah ditahan oleh polisi lantaran melakukan penyiraman cairan kimia terhadap tujuh orang perempuan di tiga lokasi berbeda.

"Kenapa korbannya perempuan semua? Karena kakaknya perempuan," ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Gatot Eddy Pramono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Senin.

 Itu alasan yang bersangkutan, yakni merasa kurang diperhatikan. "Tapi kita masih mendalami apakah itu motif yang sebenarnya atau tidak. Penyidik masih bekerja," katanya.

Dijelaskan Gatot, perhatian dalam hal ini adalah ketika pelaku terluka dan dirawat di rumah sakit, tersangka FY mengaku kurang diperhatikan oleh kakaknya.

"Menurut keterangan pelaku, pelaku pernah jatuh dan robek di kepalanya dan yang bersangkutan kurang mendapat perhatian dari kakaknya, bahkan ketika di rumah sakit dia kurang mendapat perhatian kakaknya," ujarnya.

Baca juga: Penyiram cairan kimia dipastikan tidak alami gangguan jiwa
Baca juga: Tempat kerja penyiram air keras sempat disegel polisi


Polisi kemudian juga meminta keterangan dari kakak korban untuk mengklarifikasi pernyataan tersangka. Namun kakak tersangka membantah pernyataan FY

"Sudah dicek sama penyidik kita, kakaknya itu memperhatikan," tutur Gatot.

Gatot mengatakan, polisi masih memeriksa tersangka secara intensif termasuk pemeriksaan psikologinya.

"Ini kita masih lakukan pemeriksaan psikologi, hasilnya belum keluar. mungkin nanti malam atau besok sudah keluar untuk itu," tuturnya.

Dia juga menyebutkan salah satu hobi pelaku adalah bermain gim secara daring di ponselnya. Namun polisi belum menemukan keterkaitan antara hobi dan aksinya.

Hasil pemeriksaan juga menunjukkan tersangka FY negatif mengonsumsi narkoba.

Baca juga: Penyiram cairan kimia sudah beraksi empat kali
Baca juga: Polda Metro Jaya tangkap pelaku penyiraman cairan kimia di Jakbar


Warga Jakarta Barat digegerkan dengan empat peristiwa penyiraman cairan kimia.

Kasus pertama terjadi di Jakarta Barat pada 3 November 2019, namun dalam tidak ada korban dalam kasus ini dan korban juga tidak melapor ke polisi.

Kasus kedua dialami dua siswi SMPN 229 Jakarta Barat berinisial A dan PN yang sedang berjalan kaki di Jalan Kebon Jeruk Raya pada Selasa (5/11).

Disusul kemudian penyiraman cairan kimia kepada seorang nenek pedagang sayuran di Taman Aries, Meruya Utara, Kembangan, pada 8 November.

Selanjutnya menimpa enam siswi SMPN 207 Kembangan. Mereka menjadi korban penyiraman cairan kimia sepulang sekolah di Jalan Mawar, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (15/11) sekitar pukul 13.00 WIB.

Polisi kemudian bergerak cepat dengan memeriksa CCTV di sekitar lokasi kejadian dan berhasil mendapat gambar tersangka FY.

Polisi kemudian menangkap FY di rumahnya yang tidak jauh dari lokasi kejadian ketiga, yakni di Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat pada Jumat sekitar pukul 18.30 WIB.

Saat diperiksa, tersangka FY mengaku frustrasi dengan masa lalunya, yakni pernah jatuh dari lantai tiga dan tidak punya biaya berobat.

Rasa frustrasinya itu berkembang dan membuatnya ingin orang lain merasakan penderitaannya. Hal itulah yang mendorongnya untuk melakukan penyerangan dengan soda api.

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kasus Novel tidak mudah, Moeldoko minta masyarakat percaya Polri

Komentar