24 prajurit Mali tewas akibat serangan terhadap patroli militer

24 prajurit Mali tewas akibat serangan terhadap patroli militer

Dokumen foto tentara penjaga perdamaian di bawah Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensional Perserikatan Bangsa-Bangsa di Mali (United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Mali/MINUSMA) yang dibentuk berdasarkan Resolusi 2100 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada 25 April 2013. (un.org/MINUSMA-Marco Dormino)

Bamako (ANTARA) - Sebanyak 24 prajurit Mali tewas dan 29 lainnya terluka dalam serangan terhadap patroli militer di Mali utara pada Senin, di mana 17 gerilyawan juga ikut tewas, menurut juru bicara militer.

Negara Afrika Barat itu masih trauma akibat serangan terhadap pos militer yang menewaskan 54 orang pada awal November - salah satu serangan paling mematikan terhadap militernya baru-baru ini. Peristiwa itu menyoroti tingginya jangkauan dan kecanggihan kelompok bersenjata yang aktif di kawasan tersebut.

Baca juga: AS jatuhkan sanksi terhadap pemimpin jaringan Alqaida di Mali

Patroli Mali yang diserang pada Senin berada di Tabankort, kawasan Gao, saat operasi gabungan dengan Niger melawan gerilyawan terjadi di dekat perbatasan.

Baca juga: Kelompok afiliasi Alqaida akui serang markas militer Mali

"Selama serangan ini, 24 pasukan Mali tewas dan 29 lainnya terluka serta peralatan militer rusak. Sementara itu, di pihak musuh 17 orang tewas dan sejumlah lainnya ditangkap," kata juru bicara militer, Diarran Kone.

Baca juga: Serangan kamp militer di Mali tewaskan puluhan tentara

Pihak berwenang belum mengungkap siapa penyerangnya atau mengidentifikasi dari kelompok mana mereka berasal. Dari benteng yang berada di Mali, kelompok yang berafiliasi dengan Alqaida dan ISIS mampu menyebar ke seluruh Sahel, mengacaukan sejumlah wilayah di Niger dan Burkina Faso.

Pada musim gugur ini kekerasan melonjak dengan besarnya kerugian militer dan sipil di Mali dan Burkina Faso.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar