Puspenerbal simulasikan pengamanan objek vital Bandara Juanda

Puspenerbal simulasikan pengamanan objek vital Bandara Juanda

Pengunjuk rasa membakar ban saat simulasi penanggulangan huru hara di kawasan Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (19/11/2019). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/hp/pri.

Sidoarjo (ANTARA) - Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) melakukan simulasi pengamanan objek vital akses masuk Bandara Internasional Juanda dari ancaman unjuk rasa dan teroris, demi menciptakan keamanan di wilayah setempat.

Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Danpuspenerbal) Laksamana Pertama TNI Edwin saat dikonfirmasi di Sidoarjo, Selasa, mengatakan simulasi pengamanan itu dilakukan untuk mengukur kesiapsiagaan para prajurit.

Baca juga: AirNav pasang peralatan canggih di Bandara Juanda

"Simulasi ini dilakukan di dua wilayah, yaitu wilayah Barat di Tanjung Pinang dan wilayah Timur di wilayah Lanudal Juanda," katanya.

Ia mengemukakan, pengamanan itu juga melibatkan berbagai elemen seperti dukungan dari Avsec Bandara Internasional Juanda Surabaya.

Baca juga: Pengamanan Bandara Juanda diperketat pasca bom bunuh diri di Medan

"Selain itu juga ada pasukan antihuru hara yang kami miliki dan juga anggota yang bersiaga selama 24 jam," katanya.

Ia menjelaskan, dalam simulasi itu melibatkan sekitar 400 orang personel untuk melakukan pengamanan di dalam lingkungan Pangkalan Udara TNI AL di Juanda.

Baca juga: Bandara Juanda tingkatkan pengawasan penumpang dari luar negeri

"Pengamanan yang disimulasikan kali ini bercerita tentang adanya demo masyarakat terkait dengan pembangunan Terminal 3 Bandara Juanda dan teror yang dilakukan di lingkungan bandara," katanya.

Simulasi itu juga sempat membuat pengendara jalan di akses Bandara Juanda menghentikan kendaraan mereka untuk melihat kegiatan yang sedang berlangsung.

Baca juga: Lima unit helikopter dan satu pesawat diterima Puspenerbal

Bahkan tidak jarang dari masyarakat menggunakan telepon pintar mereka untuk sekadar merekam dan memotret simulasi itu.

Pewarta: Indra Setiawan
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar