Akibat pencemaran minyak, nelayan Batam minta ganti rugi

Akibat pencemaran minyak, nelayan Batam minta ganti rugi

Pencemaran minyak berwarna hitam di Perairan Batam, Kepulauan Riau. ANTARA/Dok Camat Belakangpadang/pri.

Harapan kami sebenarnya kalau bisa diklaim balik. Kapal (pembuang limbah) disandarkan, dan membayar kerugian nelayan
Batam (ANTARA) - Nelayan pulau-pulau penyangga Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meminta ganti rugi atas pencemaran minyak hitam yang terjadi di sekitar Perairan Pulau Belakangpadang.

"Harapan kami sebenarnya kalau bisa diklaim balik. Kapal (pembuang limbah) disandarkan, dan membayar kerugian nelayan," kata tokoh nelayan Pulau Belakangpadang, Mus di Batam, Selasa.

Ia mendesak pemerintah segera mencari tahu kapal yang membuang limbah di perairan tempatnya mencari ikan. Kapal pembuang minyak itu kemudian harus membayar seluruh kerugian nelayan akibat pencemaran di laut.

Menurut dia, akibat pencemaran itu, nelayan menjadi kesulitan mencari umpan ikan, yang biasa mengumpul di sekitar terumbu karang.

"Sekarang terumbu karang rusak, bisa dibilang kerusakan mencapai 80 persen, minyak-minyak lengket di sana, menjadi bau," kata dia.

Krena bau minyak itulah, kata dia, udang kecil dan hewan-hewan umpan lainnya menjauh dari terumbu, sehingga nelayan kesulitan mencari pelet untuk memancing.

Bahkan, kata dia, kala air laut surut, nampak ikan-ikan kecil mengapung, mati akibat minyak pekat.

Ia mengatakan tanpa umpan, nelayan kesulitan mendapatkan ikan.

"Kalau ada umpan di pasar, enggak seberapa, enggak seperti di laut. Lebih segar di laut ketimbang yang dijual di pasar," kata dia.

Ditanya mengengenai besaran kerugian yang dialami nelayan, ia mengatakan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Karena seorang nelayan di Pulau Mecan, bisa berpenghasilan sekitar Rp1 juta setiap harinya. Belum ditambah nelayan-nelayan di pulau lainnya.

Sementara itu, Camat Belakangpadang Yudi Admaji menyatakan pencemaran minyak hitam yang terjadi sejak Sabtu (16/11) mulai berkurang.

Menurut dia, kadar minyak tergenang berkurang berkat penyemprotan oil spill dispersant yang dilakukan tim Pertamina Pulau Sambu.

"Secara umum sudah berkurang sejak di semprot kemarin," kata Yudi.

Baca juga: Warga keluhkan cemaran minyak di Perairan Pulau Belakangpadang

Baca juga: Mulai berkurang pencemaran minyak di Pulau Belakangpadang Batam

Baca juga: Tim sebar OSD tangani minyak hitam di Perairan Batam

Pewarta: Yuniati Jannatun Naim
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KSOP Banten sebut area pelabuhan rawan pencemaran

Komentar