"Prixa" platform kesehatan berbasis AI dari Indonesia

"Prixa" platform kesehatan berbasis AI dari Indonesia

CEO Prixa, James Roring (kanan) bersama dengan Kafi Khaibar Lubis (kiri), salah satu dokter yang terlibat di Prixa pada saat pemaparan mengenai Prixa (ANTARA/Chairul Rohman)

Jakarta (ANTARA) - Prixa, sebuah perusahaan yang berbasis teknologi di Indonesia, meluncurkan sistem pemeriksaan tepat yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan alias Aritificial Intelegent (AI) serta menyediakan platform manajemen kesehatan yang terpadu bagi masyarakat Indonesia.

CEO Prixa, James Roring mengungkapkan, Visi Prixa adalah memberikan jaminan ketenangan masa depan bagi Anda dan generasi penerus kita dengan menjadi perusahaan teknologi pertama yang menyediakan platform manajemen kesehatan yang terpadu.

"Sebagai perusahaan yang berdiri di Indonesia, kami melihat bagaimana Prixa dapat memberikan dampak secara positif dalam memperbaiki keseluruhan manajemen kesehatan di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi kami, dan kami ingin melakukan hal itu dengan cara yang humanis," kata CEO Prixa, James Roring di Wyl's Kitchen, Jakarta Selatan, Selasa.

Teknologi AI dalam Prixa ini berbentuk robot percakapan atau chatbot yang dapat menjawab dan sekaligus menganalisa dari penyakit pasien.

Prixa mampu mendeteksi setidaknya 600 penyakit, namun Prixa tidak memberikan saran obat apa yang harus dikonsumsi. Teknologi ini hanya akan memberikan deteksi penyakit apa yang sedang diderita oleh pasien dan akan mempermudah sistem kerja dari dokter.

"Prixa ini tidak akan menggantikan peran dokter, melainkan akan membantu pekerjaan dokter itu sendiri, karena data dan riwayat kesehatan atau penyakit yang terdeteksi sudah ada di dalam, jadi dokter hanya tinggal fokus untuk menindaklanjuti," kata James.

James menjelaskan, Cara kerja Prixa ini sebenarnya tidak jauh berbeda ketika seorang pasien mengunjungi dokter di sebuah rumah sakit, semua pertanyaan yang diajukan oleh sistem ini mulai dari keluhan hingga berapa lama sudah mengalami sakit juga menjadi sebuah standar dari Prixa.

"Untuk pasien yang menggunakan Prixa ini akan ditanya lebih mendalam, hingga semua dijawab oleh pasien maka nanti hasil akan keluar. Jawaban yang keluar dari Prixa ini hampir semuanya benar dan tidak bias," jelas James.

Prixa melihat pada saat ini banyak ditemukan tantangan mulai dari infrastruktur di bidang kesehatan di Indonesia, yang paling terberat adalah ketersediaan dari dokter itu sendiri. Hal itu dilihat dari analisis lanskap sistem pelayanan kesehatan di Indonesia berdasarkan publikasi dari Oliver Wyman dan PWC.

Dengan angka penduduk yang banyak, yakni 267 juta jiwa. Indonesia hanya paling tidak memiliki satu dokter untuk menangani empat ribu populasi. Hal itu bertolak belakang dengan rekomendasi dari WHO yang mengharuskan satu dokter untuk setiap seribu populasi.

"Ke depannya kami juga akan bekerjasama dengan pihak asuransi dan kami berharap akan juga semakin banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan Prixa ini," tutur James.

Sebagai informasi, Prixa ini juga diinisiasi oleh 13 dokter yang sudah tergabung dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). dan rujukan dalam hasil diagnosa juga berdasarakan hasil yang ilmiah.

"Database dan expert kita merujuk kepada dari literasi medis dan buku yang pakemnya dari fakultas kedokteran, jadi hasil dari Prixa ini tidak mengada-ada dan menggunakan literatur yang memiliki standar tinggi," kata Kafi Khaibar Lubis, salah satu dokter yang terlibat di Prixa di lokasi yang sama.


Baca juga: Pelajar 16 tahun ciptakan aplikasi informasi penanganan kesehatan

Baca juga: Startup SehatQ hubungkan pengguna dengan 9.000-an dokter di Indonesia

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenkes gencarkan sertifikasi kesehatan lewat aplikasi

Komentar