Turunkan "stunting", tiga mahasiswa IPB rancang aplikasi "Gizind"

Turunkan "stunting", tiga mahasiswa IPB rancang aplikasi "Gizind"

Tiga mahasiswa IPB University merancang aplikasi "Gizind" untuk menurunkan angka "stunting". Aplikasi "Gizind" meraih juara ketiga pada lomba "Public Health National Competition (PHNC) di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya, tahun 2019. (FOTO ANTARA/HO-Humas IPB University)

Aplikasi 'Gizind' ini kami rancang dengan tiga tujuan, untuk menjaga dan memonitoring kesehatan ibu hamil, memonitoring dan mengontrol gizi anak selama 1000 hari kehidupan pertama, serta menjaga keseimbangan gizi anak sampai umur lima tahun
Bogor, Jabar (ANTARA) - Tiga mahasiswa IPB University yakni Pahmi Idris dari Departemen Proteksi Tanaman, Devin Purnawansyah dan Fitriyanti dari Departemen Teknologi Hasil Hutan berhasil merancang aplikasi "Gizind" sebagai solusi menurunkan angka "stunting" (anak kerdil)  di Indonesia.

"Aplikasi 'Gizind' ini kami rancang dengan tiga tujuan, untuk menjaga dan memonitoring kesehatan ibu hamil, memonitoring dan mengontrol gizi anak selama 1000 hari kehidupan pertama, serta menjaga keseimbangan gizi anak sampai umur lima tahun," kata Fitriyanti seperti dikutip dalam siaran pers dari Humas IPB University, di Bogor, Selasa.

Menurut Fitriyanti yang menjadi koordinator tim, melalui aplikasi "Gizind" ini dapat dilakukan monitoring secara berkala pada kesehatan ibu hamil dan anak.

Aplikasi "Gizind" yang digagas dan dirancang oleh tiga mahasiswa IPB University itu diikutsertakan pada lomba "Public Health National Competition (PHNC) di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya, tahun 2019. Trio mahasiswa IPB University ini meraih juara ketiga.

Anggota tim, Pahmi Idris, menambahkan, aplikasi "Gizind" yang berhasil menjadi juara ketiga lomba ini akan dikembangkan lagi untuk diimplementasikan.

Menurut dia, pihak-pihak yang akan dilibatkan untuk mengimplementasikan "Gizind" adalah Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, tenaga kesehatan, serta ibu-ibu sebagai target program.

"Pada aplikasi ini, tenaga kesehatan bertugas meng-input database anak, sedangkan ibu dan calon ibu dapat memperoleh pelayanan kesehatan saat hamil," katanya.

Menurut Pahmi, tim berharap gagasan pembuatan aplikasi "gizind" ini bukan hanya sekadar gagasan, tapi bisa diimplementasikan dan direalisasikan kepada ibu hamil dan janinnya, maupun bayi hingga berusia 1000 hari.

"Stunting" adalah bayi dengan gizi buruk karena asupan gizi yang buruk sejak masih dalam kandungan ibunya. Salah satu indikator stunting adalah bayi pendek yang ukuran panjang tubuhnya di bawah ukuran rata-rata.

Baca juga: Menko PMK ingatkan pentingnya 1.000 hari pertama saat rakornas

Baca juga: The Habibie Center tawarkan 7 terobosan kebijakan atasi stunting

Baca juga: Seafast IPB Bantu Tanggulangi Gizi Buruk Masyarakat

Pewarta: Riza Harahap
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar