GGF digandeng Pemda Bali kembangan buah lokal

GGF digandeng Pemda Bali kembangan buah lokal

Asisten Administrasi Umum Pemprov Bali Wayan Suarjana didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali AA Sutha Diana saat bertukar cinderamata dengan Operation Managing Director Great Giant Food I Wayan Ardana. ANTARA/Ni Luh Rhisma/pri.

Bandar Lampung (ANTARA) - Great Giants Foods (GGF), asal Lampung, digandeng Pemerintah Provinsi Bali menggandeng "Great Giant Foods" untuk mengembangkan sejumlah buah lokal dari Pulau Dewata agar bisa berkontribusi mendongkrak perolehan pendapatan asli daerah lebih signifikan.

"Rekan-rekan di GGF adalah contoh yang baik, Lampung telah sukses luar biasa dalam memgembangkan produk pertanian seperti nanas, pisang dan lainnya, sehingga memberikan hasil yang luar biasa," kata Asisten Administrasi Umum Pemprov Bali Wayan Suarjana saaat memimpin rombongan awak media mengikuti Media Informasi Pembangunan ke perkebunan dan pabrik pengolahan GGF, di Lampung Tengah, Rabu.

Sementara itu, Operation Managing Director Great Giant Foods I Wayan Ardana mengatakan Bali berpotensi besar untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas hasil pertaniannya.

Ardana menjelaskan lebih lanjut kerjasamanya dengan Pemprov Bali. "Kerja samanya nanti 'corporate share value', jadi 'win-win solution' dengan pemerintah daerah melalui kerja sama dengan perusda. Nanti kalau bisa dikembangkan kerja sama dengan masyarakat," ucap pria asal Bedulu, Kabupaten Gianyar itu.

Dengan kerja sama ini sebagai langkah awal, Ardana berharap dorongan dari Pemprov Bali untuk bisa mengembangkan ke masyarakat dan petani yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani. Komoditi pisang nantinya akan memenuhi kebutuhan Bali, NTB dan Jawa Timur.

"Dengan kerja sama 'satelite farming', kami mencari lokasi itu akan berdekatan dengan pasar kita. Kalau pisang dibawa dari Lampung, bisa bonyok dan cepat matang," ucapnya.

Ardana yang sudah meniti karir di GGF sejak Maret 1986 itu juga menyebut potensi budidaya pisang di Bali juga didukung beberapa kawasan yang berada di dataran tinggi yang sangat baik bagi budidaya pisang, khususnya pisang jenis cavendish.

"Khususnya di perbatasan Singaraja dan Bedugul itu dataran tinggi. Sebenarnya kami mencari lahan dengan dataran tinggi karena cavendish di dataran tinggi mempunyai 'value' yang lebih tinggi, metabolisme pisang lebih panjang sejauh dua bulan. Jadi pisang lebih pulen dan lebih manis," ucapnya.

Untuk menghindari penyakit, alumni IPB Bogor ini mengatakan tanaman pisang perlu dirotasi dengan tanaman lain seperti nanas, sehingga setelah kerja sama pengembangan pisang nantinya akan dilanjutkan dengan pengembangan nanas.

Suarjana menambahkan, kerjasama dengan GGF dalam pengembangan buah lokal Bali adalah strategi untuk mendongkrak PAD. Pemda Bali mau ada peningkatan perolehan dari yang selama ini berkisar Rp3,6 triliun, yang mayoritas dari pajak kendaraan bermotor dan sektor pariwisata.

"Meskipun dikatakan lahan pertanian sempit, petani Bali juga nyaris punah, namun saya optimistis dengan pengelolaan yang baik dan kerja sama dengan para ahli, Bali mampu mengembangkan sektor pertanian lokal," ujarnya.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Bali beserta para petani di Bali sudah selayaknya banyak belajar untuk memanfaatkan teknologi dalam penanganan hasil pertanian.

"Melalui kerja sama dengan GGF, kami harapkan mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat terutama petani, termasuk di pelosok kabupaten-kabupaten kita. Ada pisang mas, mangga, manggis, salak dan lainnya bisa kita kedepankan," ucap Suarjana.

Untuk langkah awal, kerja sama GGF dengan Pemprov Bali dilakukan lewat Perusda Bali dengan mengelola 50 hektare dari total 114 hektare lahan milik Pemprov Bali di daerah Pekutatan, Kabupaten Jembrana, dengan ditanami pisang emas sari.

"Kerja samanya dimulai tahun ini, kita masih menunggu musim hujan untuk mulai penanaman. Mengapa dipilih pisang jenis emas sari karena kebutuhannya di Bali cukup tinggi dan Bapak Gubernur memang menginginkan pengembangan buah lokal," ucapnya didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali AA Sutha Diana itu.

Dari kerja sama seluas 50 hektare itu akan dijadikan proyek percontohan, setelah berhasil baru akan mencari para petani di sekitar Pekutatan, Jembrana untuk diajak bekerja sama. Selain ke depannya juga dikembangkan kerja sama produksi dan pengolahan nanas.

Soleh, salah seorang petani mitra mengaku kerja sama dengan perusahaan mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan dibandingkan melemparkan produk langsung ke pasar.

"Karena produk jadi punya kepastian, penyerapan dan juga harganya. Kami petani bisa meraup sampai Rp1,7 juta per minggu untuk setiap hektarenya," ujar pria asli Blitar ini.

GGF diklaim sebagai produsen nanas kaleng terbesar di dunia dengan produksi mencapai 630 ribu ton per tahun. Produksi tersebut merupakan hasil dari 34 ribu hektare tanah perusahaan serta bekerja sama juga dengan petani setempat.

Produknya merambah pasar ekspor ke Jepang, Korea hingga Timur Tengah. GGF juga memproduksi buah pisang, jambu biji, semangka dan durian segar. Selain itu, dihasilkan pula produk berupa enzim bromelin dari hati dan batang nanas, yang banyak dimanfaatkan di bidang kesehatan dan kecantikan.***1***
Para petani yang bekerja sama dengan Great Giant Food saat memanen nanas (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2019)

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar