Bulu tangkis

Gawai jadi hambatan pembinaan atlet muda PB Djarum

Gawai jadi hambatan pembinaan atlet muda PB Djarum

Para peserta Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 PB Djarum bertanding pada tahapan final audisi yang diadakan di GOR Djarum, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (20/11/2019). (ANTARA/Shofi Ayudiana)

Kudus (ANTARA) - Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi menilai bahwa pembinaan atlet muda saat ini lebih sulit dan salah satu hambatannya adalah penggunaan gawai.

“Tentu saja beda. Gadget menjadi kesulitan yang harus kita hadapi karena kita melarang juga sulit ya untuk sekarang,” kata Fung di GOR Djarum, Kudus, Rabu.

Fung mengatakan hingga saat ini masih belum ada tata tertib tertulis yang mengatur soal penggunaan gawai. Tim pelatih, menurutnya hanya memberikan imbauan kepada para atlet untuk tidak menggunakan telepon selulernya saat sesi latihan.

Baca juga: PB Djarum prioritaskan cetak atlet tunggal putra berprestasi

Dengan tidak ada aturan tertulis seperti itu, tidak ada juga hukuman yang diberlakukan ketika ada atlet yang melanggar.

“Sejauh ini sudah ada formal kita umumkan terutama bagi regu U-19, kami imbau untuk mengumpulkan HP. Seiring berjalannya waktu semua kelompok umur yang kecil-kecil masih nurut, tapi yang makin besar, mereka punya pemikiran sendiri,” katanya.

Meskipun sudah diimbau untuk mengumpulkan gawainya pada waktu yang ditentukan oleh tim pelatih, kata Fung, masih ada saja orang tua atlet yang dengan mudahnya membelikan anaknya dua ponsel, sehingga ketika satu ponsel harus dikumpulkan, mereka masih bisa menggunakan ponsel lainnya.

Baca juga: 30 peserta audisi raih super tiket, melaju ke final di Kudus

Kondisi tersebut membuat Fung dan tim pelatih semakin sulit melarang para atlet untuk menggunakan gawainya. Maka, ia pun tetap mengizinkan pemakaian ponsel selama tidak memecah konsentrasi saat latihan.

Namun, Fung juga tidak terlalu khawatir karena timnya akan terus melakukan evaluasi dari segala aspek termasuk soal prestasi para atletnya. Fung mengungkapkan bahwa akan ada sistem degradasi terhadap atlet yang minim prestasi.

Baca juga: Media sosial pengaruhi pola permainan peserta audisi PB Djarum

“Ada degradasi. Degradasinya ada dua aspek, yaitu soal prestasi dan attitude. Itu jadi aspek penilaian yang penting. Soal attitude, ketika berlatih tidak menunjukkan semangat tinggi, bagaimana nanti bakal meraih prestasi?,” ujarnya.

Di PB Djarum, jadwal latihan dilakukan selama lima jam dalam sehari yang dibagi dalam dua sesi, meliputi sesi latihan fisik dan teknik. Namun, apabila akan menghadapi turnamen, durasi latihan akan diperpanjang sesuai dengan kebutuhan atlet yang akan bertanding.

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengintip fasilitas asrama PB Djarum di Kudus

Komentar