Bulu tangkis

Peserta dari luar Pulau Jawa curi perhatian tim pencari bakat audisi

Peserta dari luar Pulau Jawa curi perhatian tim pencari bakat audisi

Peserta asal Kota Manado, Dhiva Violya Marante tengah bertanding pada tahap Final Audisi Umum di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (20/11/2019). (ANTARA/HO/PB Djarum)

Kudus (ANTARA) - Beberapa peserta dari luar Pulau Jawa yang mendapatkan super tiket mampu mencuri perhatian tim pencari bakat pada hari pertama Final Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 di GOR Djarum, Kudus, Jawa Tengah.

Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi mengungkapkan bahwa pada Final Audisi Umum tahun ini, beberapa peserta berbakat asal Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam, hingga Merauke, Papua mampu memberikan perlawanan ketat.

"Memang pada tahun ini Audisi Umum hanya berpusat di Pulau Jawa. Namun, baik pada saat Audisi Umum maupun Final Audisi Umum, para peserta dari luar Pulau Jawa mampu mencuri perhatian kami yang memantau pertandingan-pertandingan mereka," ungkap Fung di GOR Djarum, Kudus, Jawa Tengah, Rabu.

Baca juga: PB Djarum prioritaskan cetak atlet tunggal putra berprestasi

Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 memang berbeda dibanding tahun sebelumnya yang dilaksanakan di delapan kota, yakni Pekanbaru, Balikpapan, Manado, Purwokerto, Surabaya, Cirebon, Solo, dan Kudus.

Pada tahun ini, PB Djarum hanya membuka audisi di Pulau Jawa di lima kota, yakni Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo, dan Kudus.

Meski begitu, Fung menyatakan bahwa animo peserta dari luar Pulau Jawa masih cukup tinggi. Mereka rela menempuh jarak yang jauh hingga mengeluarkan banyak biaya untuk mengikuti audisi umum yang sudah diadakan sejak 2006 itu.

"Ada kesan bahwa bulu tangkis Indonesia itu hanya berpusat di Pulau Jawa. Tapi tahun ini seperti pembuktian bahwa adik-adik dari luar Pulau Jawa ini tidak mau kalah dengan yang dari Pulau Jawa," katanya.

Baca juga: Fung: Audisi Djarum dorong atlet berprestasi internasional

Salah satu peserta dari Aceh, Yuga Gustisyah (12) dan orang tua yang mengantarkannya, misalnya, rela berkorban waktu, tenaga, hingga materi terbang dari Meulaboh, Aceh menuju Surabaya untuk mengikuti audisi umum.

“Kemarin itu harus tiga kali transit. Dari Meulaboh naik bus ke Banda Aceh lima jam. Setelah itu, ke Medan, Jakarta, Semarang. Kalau dihitung berdua habis sekitar Rp20 juta,” tutur Ayah Yuga, Yushansyah.

Selain Yuga, orang tua dari Dhiva Violya Marante (9), peserta asal Manado juga menceritakan perjalanannya mengikuti audisi tersebut.

Baca juga: 134 peserta bersaing di final audisi beasiswa bulu tangkis 2019

“Perjalanan cukup berat ya. Apalagi kedua anak saya terjun di bulu tangkis, biayanya pasti berat dan yang kerja juga hanya bapaknya,” tutur Ibu Dhiva, Meikemugama.

Sebanyak 133 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia tengah berjuang di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, pada 20-22 November, untuk merebut Beasiswa Bulu Tangkis dari Bakti Olahraga Djarum Foundation.

Pada hari terakhir gelaran Final Audisi Umum, Jumat (22/11), akan diumumkan para peserta yang berhak melangkahkan kakinya ke Tahap Karantina. Para peserta yang masuk karantina ditentukan oleh penilaian dari jajaran pelatih PB Djarum. Sedangkan hasil pertandingan peserta selama Final Audisi Umum menjadi bahan pertimbangan penjurian.

Fase Karantina digelar selama satu pekan, mulai 23 hingga 29 November 2019 di dua GOR Djarum di Jati dan Kaliputu. Setelah Tahap Karantina, PB Djarum akan mengumumkan nama-nama peserta yang mendapat Beasiswa Bulu Tangkis dan bergabung dengan klub bulu tangkis yang bermarkas di Kudus itu.

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengintip fasilitas asrama PB Djarum di Kudus

Komentar