Terbeban utang, realisasi serap beras Bulog baru capai 1,14 juta ton

Terbeban utang, realisasi serap beras Bulog baru capai 1,14 juta ton

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso usai menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Kamis. (Mentari Dwi Gayati)

Mekanisme perubahan arah kebijakan dari Beras Sejahtera menjadi Bantuan Pangan Non Tunai berpengaruh terhadap kinerja penugasan Bulog
Jakarta (ANTARA) - Perum Bulog melakukan realisasi pengadaan beras atau serap gabah sebesar 1,14 juta ton per 18 November 2019 atau baru mencapai 63,6 persen dari total target penugasan tahun ini sebesar 1,8 juta ton.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjelaskan bahwa salah satu kendala Bulog dalam melakukan pengadaan beras karena beban hutang dan bunga yang terus berjalan.

"Target tahun 2019 penyerapan 1,8 juta ton seharusnya. Kenapa kami hanya bisa 1,1 juta bukan karena kami tidak mau, tetapi kami terbebani utang dan sampai hari ini belum ada jaminan pengganti uang itu," kata Budi Waseso dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Bulog gandeng Aprindo distribusi beras medium ke masyarakat

Buwas mengatakan selama ini penyerapan beras untuk stok cadangan beras pemerintah (CBP) menggunakan dana pinjaman kredit bank.

Sayangnya, penugasan penyediaan stok tersebut tidak dibarengi dengan kebijakan penyaluran beras, sehingga stok CBP pun berlebih. Bulog baru akan mengeluarkan stok CBP jika ada penugasan dari pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah baru akan melakukan pembayaran kembali kredit tersebut setelah penyaluran beras berhasil direalisasikan. Bahkan, pencairan dana CBP dari pemerintah tidak selalu dilakukan pada awal tahun.

Berdasarkan PMK 88/PMK.02/2019, dana untuk pengadaan CBP 2019 sebesar Rp2,5 triliun. Anggaran tersebut hanya mampu menutupi penyerapan beras setara 250.000 ton. Sementara itu, penyaluran cadangan beras pemerintah terhambat dan bunga pinjaman tetap berjalan.

Terhitung hingga September 2019, Bulog masih memiliki utang atau pinjaman yang harus diselesaikan sebesar Rp28 triliun untuk pengadaan sejumlah komoditas, termasuk beras.

Selain karena terbeban utang, penyaluran beras Bulog tidak berjalan secara maksimal karena program sosial Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) baru mulai diterapkan secara efektif sejak September 2019.

"Mekanisme perubahan arah kebijakan dari Beras Sejahtera menjadi Bantuan Pangan Non Tunai berpengaruh terhadap kinerja penugasan Bulog," kata Buwas.

Ada pun penyaluran Rastra tahun ini hanya mencapai 353.000 ton, jauh lebih rendah dari penyaluran Rastra 2018 sebanyak 1,2 juta ton. Saat ini stok beras di gudang Bulog tercatat sebanyak 2,24 juta ton.

"Siapa yang mau beli (beras) ini, kita jual tetapi kan tidak bisa, kita harus izin dari Rakortas. Ini bahaya, kalau tidak dibuang, beras rusak dan akan menular ke stok lainnya dan semua akan rusak," kata dia.

Baca juga: Bulog usulkan pemerintah beri modal awal Rp20 triliun untuk serap CBP
Baca juga: Rapat Komisi IV, Buwas kenalkan Gatot Trihargo sebagai Wadirut Bulog

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BUMN mulai serap gabah langsung dari petani

Komentar