Indef kritisi kebijakan pembentukan holding BUMN

Indef kritisi kebijakan pembentukan holding BUMN

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara di Jakarta, Kamis (21/11/2019). ANTARA/Aji Cakti

Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengkritik keras kebijakan pembentukan holding BUMN yang digulirkan oleh menteri BUMN sebelum Erick Thohir.

"Saya mengkritik keras kebijakan menteri BUMN sebelumnya, saya sangat anti terhadap kebijakan pembentukan holding BUMN yang saya kira usai pembentukan holding tidak ada perbaikan kinerja yang signifikan," ujar Bhima di Jakarta, Kamis.

Bhima menjelaskan bahwa laba perusahaan-perusahaan BUMN memang naik tapi dibandingkan dengan bertambahnya utang. Dengan utang 60 persen selama lima tahun terakhir, namun laba yang diperoleh hanya 22 persen.

"Jangan-jangan labanya habis untuk membayar bunga utang," kata Bhima di sela-sela acara diskusi.

Baca juga: Menteri PUPR belum tanda tangani pembentukan holding BUMN karya

Bhima juga mendesak kepada Menteri BUMN saat ini yakni Erick Thohir untuk menunda terlebih dahulu kebijakan pembentukan holding-holding BUMN.

"Saya kira untuk pembentukan holding-holding yang akan berjalan, salah satunya holding penerbangan lebih ditunda terlebih dahulu. Terlebih lagi dengan mencuatnya kasus perselisihan Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air," ujar pengamat Indef tersebut.

Sebelumnya Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyampaikan bahwa kecil peluang bagi terbentuknya holding BUMN Karya atau konstruksi.

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan bahwa erdapat banyak pertimbangan yang membuat holding karya berpeluang kecil untuk terbentuk.

Baca juga: Kementerian BUMN kaji ulang pembentukan Holding Pelindo

Rencananya perusahaan induk BUMN bidang infrastruktur atau karya akan terdiri atas enam perusahaan, yaitu PT Hutama Karya (Persero) sebagai holding, dan didukung anggota holding yaitu PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Yodya Karya (Persero) dan PT Indra Karya (Persero).

Pembentukan holding tersebut bertujuan untuk menciptakan badan usaha plat merah yang besar, kuat, dan lincah, khususnya dalam mempercepat pembangunan infrastruktur, serta proyek-proyek strategis nasional.

Melalui penguatan permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan, serta didukung oleh pengembangan keahlian BUMN, pembentukan holding diharapkan dapat mempercepat pengembangan infrastruktur yang dapat berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi misalnya infrastruktur konektivitas yang dapat menciptakan koridor-koridor ekonomi baru dan menurunkan logistic cost di Indonesia.

PT Hutama Karya (HK) Persero rencananya akan dijadikan sebagai perusahaan induk untuk BUMN karya.

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

INDEF: Kinerja tim ekonomi bisa diukur dalam 100 hari

Komentar