Cemaskan perdagangan AS-China, minyak turun dari tertinggi dua bulan

Cemaskan perdagangan AS-China, minyak turun dari tertinggi dua bulan

Ilustrasi - Barel Minyak dengan grafik harga minyak jatuh. ANTARA/Shutterstock/pri (Shutterstock)

Faktor kunci untuk prospek permintaan minyak adalah negosiasi perdagangan
New York (ANTARA) - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mundur kembali dari tertinggi dua bulan dan menghentikan kenaikan selama dua hari berturut-turut karena kekhawatiran atas pembicaraan perdagangan AS-China membayangi ekspektasi perpanjangan pengurangan produksi OPEC+.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 0,58 dolar AS menjadi ditutup pada 63,39 dolar AS per barel setelah menyentuh tertinggi 64,27 dolar AS.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 0,81 dolar AS menjadi menetap di 57,77 dolar AS per barel setelah mencapai tertinggi sesi 58,74 dolar AS.

Setelah memangkas kenaikan mereka, kedua harga acuan mengakhiri pekan ini dengan sedikit berubah.

“Situasi AS-China tidak terlihat sangat positif, sehingga mengambil beberapa kekuatan reli yang Anda miliki minggu ini,” kata John Kilduff, seorang mitra di Again Capital Management di New York.

Ketidakpastian tentang apakah Amerika Serikat dan China akan dapat mencapai kesepakatan perdagangan parsial yang akan mengangkat beberapa tekanan pada ekonomi global, tetap menutup harga minyak.

Baca juga: Harga minyak naik ke tertinggi 2 bulan, dipicu pemangkasan OPEC

Presiden China Xi Jinping pada Jumat (22/11/2019) mengatakan negaranya ingin membuat pakta perdagangan awal dengan Amerika Serikat dan telah berusaha untuk menghindari perang dagang tetapi tidak takut untuk membalas jika diperlukan.

China telah mengundang perunding perdagangan utama AS untuk putaran baru pembicaraan tatap muka di Beijing sebagai upaya untuk setidaknya mencapai kesepakatan terbatas, Wall Street Journal melaporkan pada Kamis (21/11/2019), mengutip sumber yang tidak diidentifikasi.

"Faktor kunci untuk prospek permintaan minyak adalah negosiasi perdagangan," kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets and Stockbroking di Sydney.

"Dengan minyak di dekat bagian atas rentang perdagangan baru-baru ini, tidak mengherankan melihat sedikit tekanan jual". 

Harga reli ke posisi tertinggi sejak akhir September pada Kamis (21/11/2019) setelah Reuters melaporkan bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang pengurangan produksi yang ada tiga bulan lagi hingga pertengahan 2020 ketika mereka bertemu pada 5-6 Desember.

Kelompok ini juga akan menekankan perlunya kepatuhan perjanjian yang lebih ketat dari negara-negara seperti Irak dan Nigeria.

"Pendekatan disiplin dari Irak dan Nigeria harus mengurangi 300-400.000 barel per hari (bph) dari tingkat produksi grup yang mengarah ke pasar yang seimbang di paruh pertama tahun 2020 dan kemungkinan defisit pasokan di paruh kedua," kata pialang minyak PVM.

Baca juga: Minyak melonjak setelah data persediaan AS dan soal Rusia-OPEC

Perjanjian saat ini adalah untuk pengurangan produksi 1,2 juta barel per hari hingga akhir Maret.

Berita tentang penarikan terbesar selama tiga bulan dalam stok minyak mentah AS di Cushing, Oklahoma, juga mendukung harga minggu ini. Cushing adalah titik pengiriman untuk minyak mentah berjangka WTI.

Harga minyak juga didukung sampai batas tertentu oleh penurunan jumlah rig minyak AS minggu ini. Jumlah rig pengeboran minyak aktif di Amerika Serikat turun 3 rig menjadi 671 rig untuk pekan yang berakhir 22 November, menurut data mingguan yang dirilis oleh Baker Hughes pada Jumat (22/11/2019).

Baca juga: Harga minyak jatuh, dipicu cemas pasokan berlebih dan sengketa dagang

 

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar