Pertamina Tarakan Field bantu pengembangan perajin batik difabel

Pertamina Tarakan Field bantu pengembangan perajin batik difabel

Seorang perajin batik tulis penyandang difabel sedang bekerja di UMKM batik DRT Tarakan, yang menjadi mitra binaan Pertamina EP Tarakan Field, Tarakan, Sabtu (23/11/2019). ANTARA/Faisal Yunianto/aa.

Tarakan (ANTARA) - PT Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field mulai tahun ini membina para perajin kain batik penyandang difabel, melalui program pengembangan UMKM batik ramah lingkungan di Tarakan, Kalimantan Utara.

"Semangatnya sederhana, semakin baik kinerja dan capaian perusahaan maka perusahaan dapat memberdayakan dan mendorong kesejahteraan masyarakat di wilayah operasi dengan lebih baik pula," kata Tarakan Legal & Relation Assistant Manager, Enriko R. Estrada Hutasoit di Tarakan, Sabtu.

Produk kain batik yang dikerjakan para perajin penyandang difabel tersebut mengusung tema lingkungan dan motif budaya suku dayak Tidung. Motifnya ringan dengan pewarnaan dari bahan alami yang sumbernya mudah ditemukan.

Sumber pewarna alaminya cukup beragam, seperti dari kulit kayu merah (mangrove), kulit buah rambutan dan daun pohon ketapang. Bahkan karat dari paku besi pun dipakai sebagai pengikat warnanya.

"Dengan menggunakan pewarna alami kami tidak khawatir merusak lingkungan. Limbah dari bahan pewarna bahkan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk, yang membuat tanaman lebih subur," kata Sony Lolong, Ketua Kelompok UMKM batik DRT Tarakan yang anggotanya penyandang difabel.

Menurut dia, saat ini ada lima perajin batik difabel yang aktif. Tiga orang diantaranya fokus membuat batik tulis.

"Untuk membuat batik tulis memang butuh kesabaran ekstra. Saya yakinkan ke mereka jika sudah mampu mengelola kesabaran maka akan menjadi karya batik yang indah," kata Sony yang terjun ke usaha batik ini sejak 2011.

Sony juga membolehkan anggota kelompoknya untuk membawa peralatan batik tulis ke rumah sehingga mereka tetap nyaman dalam bekerja.

Sejak menjadi mitra binaan Tarakan Field yang diinisiasi pertengahan 2019, kelompok perajin batik difabel ini mendapat bantuan bahan baku dan peralatan membatik.

Bantuan yang diberikan oleh Tarakan Field dimanfaatkan untuk mengembangkan variasi pola batik dan uji coba sumber pewarnaan yang baru.

"Kami sangat terbantu, teman-teman difabel dapat lebih berdaya berkat bantuan dari perusahaan," tambah Sony.

Untuk membuat satu potong kain batik tulis dibutuhkan waktu 1-2 bulan, sedangkan untuk batik cap rata-rata produksinya mencapai 200 potong per bulan.

Sony mengatakan kain batik tulis yang diproduksi dijual mulai dari Rp600.000 per potong. Sementara untuk batik cap dijual Rp325.000 per potong.

Untuk mendukung pemasaran mitra binaan, Tarakan Field membangun Galeri CSR bekerja sama dengan Bunyu Field. Galeri ini sekaligus menjadi pusat pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh mitra binaan, seperti batik khas, sabun gliserol, makanan ringan khas, dan lain sebagainya.



Baca juga: Di tangan KSM Ramah Lingkungan Tarakan, minyak jelantah jadi biodiesel
Baca juga: Pertamina EP ubah kampung nelayan jadi kampung "pelangi"
Baca juga: Tekan impor limbah plastik, Pertamina EP perkuat bank sampah Nunukan

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar