Artikel

Menelusuri "benang merah" guru dan AJB Bumiputera 1912

Oleh Diding S. Anwar *)

Menelusuri "benang merah" guru dan AJB Bumiputera 1912

Sejumlah siswa menyalami guru mereka seusai mengikuti upacara di Sekolah Dasar Negeri 060813 Medan, Sumatera Utara, Senin (25/11/2019). ANTARA FOTO/Septianda Perdana/foc.

guru tetaplah guru yang tidak dapat dibandingkan dengan profesi lainnya, karena telah melekat gelar sebagai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"
Jakarta (ANTARA) - Pengabdian dan jasa para guru diperingati bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang terbentuk pada 25 November 1945 atau seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebelum PGRI, perkumpulan ini bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang didirikan pada 1912.

Pada 1932 PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pada 24-25 November 1945 di Surakarta, Jawa Tengah, digelar Kongres Guru Indonesia yang pertama dengan hasil kongres salah satunya mengesahkan terbentuknya PGRI.

Sebagai bentuk penghormatan pada para guru, Pemerintah RI menetapkan hari lahir PGRI sebagai Hari Guru Nasional.

Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 lahir sebagai bentuk keprihatinan "Tiga Serangkai Tokoh Guru", atas nasib para guru pribumi. "Founding fathers" kelahiran perusahaan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 adalah M. Ng. Dwidjosewojo, MKH Soebroto dan M. Adimijoyo.

Perusahaan AJB Bumiputera 1912 lahir empat tahun setelah Kebangkitan Nasional 1908. Perusahaan ini adalah alat perjuangan bangsa yang begitu gagah berani di tengah-tengah perjuangan bangsa dalam menghadapi penjajah.

Dwijosewojo yang berprofesi sebagai guru dan sebagai sekretaris PGHB, juga ikut mendirikan Boedi Oetomo dan menjabat sebagai sekretaris Pengurus Besar Boedi Oetomo.

Ia adalah tokoh guru yang disegani bangsa pribumi dan dihormati bangsa Hindia Belanda. Didorong oleh keprihatinan yang mendalam terhadap nasib para guru bumiputra, bersama Adimidjojo dan Soebroto, Dwidjosewojo menemukan fakta ternyata sistem proteksi asuransi sudah dijalankan dalam sistem gotong royong yang berlaku di masyarakat pribumi.

Gagasan itu diungkapkan dalam Kongres Boedi Oetomo yang digelar pada 1910. Gagasan tersebut secara aklamasi diterima, namun tertunda atau belum bisa langsung terlaksana.

Baca juga: Hari guru, Mendikbud: Dua poin penting, guru merdeka dan penggerak

Tidak menyerah, Dwidjosewojo melontarkan lagi buah pikirannya pada kongres Persatoean Goeroe-Goeroe Hindia Belanda pada 12 Februari 1912 di Magelang. Kali ini gagasannya juga diterima secara aklamasi, tanpa penundaan.

Badan usaha segera dibentuk dengan nama Onderlinge Levenszekering Maatschappij Persatoean Goeroe-Goeroe Hindia Belanda (OLMIJ PGHB). Inilah organisasi perusahaan yang merupakan cikal bakal AJB Bumiputera 1912 dan peletak batu pertama perasuransian di Bumi Nusantara.

Dengan modal awal nol sen AJB Bumiputera 1912 memulai usahanya. Perusahaan asuransi ini berbentuk Onderling atau Mutual (Usaha Bersama), perusahaan dapat didirikan tanpa harus menyediakan modal terlebih dahulu.

Perusahaan ini hanya mengutamakan pembayaran premi sebagai modal kerjanya dan para pengurusnya tidak mendapatkan honorarium. Mereka bekerja dengan sukarela. Pada Oktober 1913, Onderling Lavenzekering Maatscappij PGHB mendapatkan subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda sebesar 300 gulden setiap bulannya selama 10 tahun.

Sebagai perwujudan ikatan emosional dan sejarah, AJB Bumiputera 1912 menjadikan produk-produknya identik dengan pendidikan. Asuransi Beasiswa Berencana merupakan produk AJB Bumiputera 1912 yang paling populer dan melekat pada masyarakat.

Produk-produk sejenis selain Asuransi Beasiswa Berencana yang disempurnakan dengan Mitra Beasiswa Berencana, Produk Mitra Cerdas, hingga Mitra Guru, semuanya menjadi bukti ikatan emosional antara AJB Bumiputera 1912 dengan persoalan pendidikan di mana guru merupakan pilar maju mundurnya pendidikan.

Seiring dengan perkembangan zaman, dengan persaingan di segala aspek kehidupan, pendidikan dituntut memberikan nilai lebih dalam pembentukan karakter, budaya, dan ilmu. Tentunya, hal tersebut dituntut peningkatan kualitas guru dalam memberikan keteladanan serta kurikulum pengajaran terhadap anak didiknya.

Namun, terlepas dari hal tersebut, guru tetaplah guru yang tidak dapat dibandingkan dengan profesi lainnya, karena telah melekat gelar sebagai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa".

Guru menjadi bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia, guru telah menjadi cikal bakal berdiri dan tumbuhnya AJB Bumiputera 1912. Guru merupakan profesi sepanjang masa yang tidak akan pernah hilang.

Sebagai perwujudan dari pengabdian guru, bukti nyata AJB Bumiputera 1912 menjadikan pendidikan sebagai produk unggulannya yang dimanfaatkan masyarakat banyak melalui pemegang polis.

Selamat Hari Guru Nasional. Semoga AJB Bumiputera 1912 tetap hadir di Bumi Nusantara. (Dari berbagai sumber)

*) Diding S. Anwar adalah Ketua Komite Tetap Pembiayaan Infrastruktur Bidang Konstruksi dan Infrastruktur Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia

Baca juga: Akademisi: Peringatan hari guru momentum memaksimalkan kompetensi
Baca juga: Mendikbud ajak guru lakukan perubahan
Baca juga: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan pangkas macam-macam regulasi

Oleh Diding S. Anwar *)
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dedikasi guru difabel dalam mencerdaskan pelajar autis

Komentar