Mega dorong penanganan bencana masuk kurikulum sekolah

Mega dorong penanganan bencana masuk kurikulum sekolah

Presiden Ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri (tengah) dalam jumpa pers di Gedung Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Kemayoran, Jakarta, Senin (25/11/2019) (ANTARA News/Fathur Rochman)

Di sini ada Pak Menteri Menko PMK, Pak Muhadjir, mbok ya kurikulum dalam hal menangani bencana alam ini seharusnya diinikan (dimasukkan) ke sekolah-sekolah secara aktif
Jakarta (ANTARA) - Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mendorong pemerintah, dalam hal ini Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk memasukkan materi mengenai penanganan pertama menghadapi bencana ke dalam kurikulum sekolah.

"Di sini ada Pak Menteri Menko PMK, Pak Muhadjir, mbok ya kurikulum dalam hal menangani bencana alam ini seharusnya diinikan (dimasukkan) ke sekolah-sekolah secara aktif," ujar Megawati di Auditorium Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Senin.

Megawati menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya usai menerima penghargaan sebagai Tokoh Pelopor Penguatan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika oleh BMKG.

Baca juga: Pemkot Ambon programkan kurikulum mitigasi bencana

Menurut dia, kurikulum mengenai penanganan pertama dalam menghadapi bencana penting diterapkan di sekolah-sekolah agar sejak dini anak-anak sudah mengetahui bagaimana cara melindungi diri ketika bencana terjadi.

"Jadi mereka kalau suatu saat terjadi seperti yang tadi saya katakan (bencana alam), dapat segera mampu melindungi dirinya sendiri dan kemudian membantu orang lain," kata Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu

Mega mengadopsi ide untuk memasukkan materi penanganan bencana ke dalam kurikulum sekolah dari Jepang. Di negara berjuluk matahari terbit itu, kata dia, para siswa sudah mengerti apa yang harus dilakukan ketika bencana alam terjadi, karena adanya kurikulum tersebut.

Dia mengatakan para siswa dan orang tua siswa di Jepang sudah dibekali pengetahuan yang cukup, sehingga ketika bencana alam terjadi mereka tidak panik dan dapat langsung melindungi diri.

Baca juga: DMII dukung edukasi bencana masuk kurikulum

"Kalau dulu saya lihat (di Jepang), ada backpack isinya tiga pakaian, lalu obat-obatan pribadi dan sebagainya. Setiap keluarga harus punya satu-satu di taruh di depan pintu rumahnya," kata dia.

Selain itu, sistem dan teknologi penanganan bencana alam di negara tersebut juga sudah sangat canggih. Mega kemudian mencontohkan mengenai metode penggunaan patok berwarna di daerah yang rawan terjadi bencana alam di Jepang.

Di daerah yang rawan bencana, ujar dia, ditempatkan patok berwarna merah, sebagai tanda bahwa daerah tersebut masih rawan. Masyarakat kemudian diarahkan untuk menuju ke daerah yang memiliki patok berwarna kuning atau hijau, yang menandakan bahwa kawasan tersebut sudah aman dari bencana.

"Kalau patoknya merah, dia masih harus lari. Jadi dia masih harus mencari patok yang warnanya sudah dibilang aman, warnanya mulai kuning lalu hijau," tutur dia.

Mega pun berharap metode pertolongan pertama menghadapi bencana dengan menggunakan patok berwarna itu dapat diterapkan di Indonesia, khususnya di daerah yang rawan terjadi bencana alam.

"Jadi supaya di kasih patok-patok gitu lho pak, misalnya, di Jawa tengah di daerah mana, mungkin di daerah biasanya yang di pesisir-pesisir," ucap Mega.

Baca juga: Kurikulum sekolah siaga bencana di Garut disiapkan untuk TK hingga SMP

Baca juga: Jawa Barat siapkan kurikulum tanggap bencana

Baca juga: Simulasi kebencanaan hendaknya masuk kurikulum sekolah

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar