Sayap-kiri bersaing ketat dengan sayap-kanan dalam Pemilu Uruguay

Sayap-kiri bersaing ketat  dengan sayap-kanan dalam Pemilu Uruguay

Calon presiden Partai Nasional Luis Lacalle Pou melakukan swafoto dengan pendukung saat ia tiba untuk berkampanye menjelang pemilihan presiden putaran kedua pada Minggu di Maldonado, Uruguay, Selasa (19/11/2019). ANTARA/REUTERS/MARIANA GREIF/tm

Motevideo, Uruguay (ANTARA) - Calon presiden Uruguay bersaing ketat saat data penghitungan suara awal mulai mengalir pada Minggu malam (24/11) dalam pemungutan suara babak kedua antara partai liberal yang berkuasa dan oposisi konservatif --yang bangkit kembali.

Setelah pemungutan suara ditutup pada pukul 19.30 waktu setempat (Senin, 05.30 WIB), jajak pendapat di luar proses resmi memberi tanda beragam. Dua jajak pendapat memperlihatkan Partai Nasional, kubu sayap kanan-tengah yang dipimpin oleh Luis Lacalle Pou, unggul tipis. Posisi ketiga diduduki oleh Daniel Martinez dari Partai Front Luas, yang memerintah.

Persaingan yang tampaknya lebih ketat daripada dugaan itu terjadi setelah jajak pendapat prapemungutan suara menempatkan Lacalle Pou, yang ayahnya adalah mantan seorang presiden, favorit untuk menggulingkan koalisi lama.

Koalisi lama itu telah membawa Uruguay, negara yang digerakkan sektor pertanian, menuju periode stabilitas dan pertumbuhan yang relatif bagus, kendati baru-baru ini menurun. 
 
Sebanyak 2,7 juta warga Uruguay memenuhi syarat sebagai pemilih, kata Reuters. Harapan tersebar luas bahwa negara Afrika Selatan itu akan beralih kembali ke arah sayap-kanan setelah sekitar 15 tahun berada di bawah pemerintahan liberal.

Saat kampanye prapemilihan umum ditutup pekan lalu, Lacalle Pou (46) terlihat memiliki keyakinan kuat. Ia menyatakan Uruguay menuntut perubahan. Jajak pendapat prapemilihan umum memperlihatkan dia mengalahkan Martinez dengan margin enam-delapan poin.

Martinez, mantan wali kota Montevideo berusia 62 tahun, sebelumnya mengatakan koalisi lima-partai melawan dia adalah upaya untuk menggusur pemerintahan liberal.

Ia juga telah memperingatkan mengenai kebijakan "kaum fundamentalis: untuk membawa Uruguay dengan tajam ke kanan, "dan berakhir seperti di Argentina serta Brazil".

Di tengah kerusuhan regional yang bertambah luas di Bolivia dan Chile, Uruguay tetap stabil, tapi menjalani pertumbuhan cuma 0,1 persen dalam kuartal kedua tahun ini.

Angka pengangguran juga telah naik jadi 9,2 persen dibandingkan dengan tahun lalu, sementara inflasi sepanjang tahun ini telah mencapai 8,36 persen.

Sumber: Reuters

Baca juga: Meksiko, Uruguay tolak penggunaan kekuatan di Venezuela 

Baca juga: Uruguay tolak permintaan suaka mantan Presiden Peru

Baca juga: PBB ingatkan krisis Bolivia bisa jadi tak terkendali

 

Forum Bisnis Asean-Amerika Latin

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar