SKK Migas targetkan produksi migas 1 juta barel per hari pada 2030

SKK Migas targetkan produksi migas 1 juta barel per hari pada 2030

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto saat membuka "Joint Convention Yogyakarta 2019 (JCY 2019)" bertajuk "Toward Massive Exploration and Maximizing Undeveloped Resources" di Yogyakarta, Selasa. (ANTARA/Luqman Hakim)

Tetapi memang tantangannya besar karena kita membutuhkan investor-investor yang punya kekuatan finansial karena ini nafasnya harus panjang
Yogyakarta (ANTARA) - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya menargetkan produksi minyak dan gas bumi Indonesia mampu mencapai 1 juta barel setara minyak per hari pada 2030.

"Kita targetkan 2030 kita bisa kembali ke 1 juta barel per hari lagi. Sekarang ini 750 ribu (barel per hari)," kata Dwi Soetjipto seusai membuka "Joint Convention Yogyakarta 2019 (JCY 2019)" bertajuk "Toward Massive Exploration and Maximizing Undeveloped Resources" di Yogyakarta, Selasa.

Untuk mencapai target itu, menurut dia, SKK Migas akan terus meningkatkan eksplorasi untuk mendongkrak produksi migas.

Baca juga: SKK Migas gandeng TNI "amankan" kegiatan hulu migas

Saat ini, kata Dwi, dari total sebanyak 128 cekungan sedimen yang ada di Indonesia, baru 54 cekungan yang telah dieksplorasi. Dengan demikian masih ada 74 cekungan yang menunggu untuk ditemukan potensinya.

Selain itu, lanjut dia, untuk produksi gas, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar yaitu Blok Masela yang kini mulai digarap.

Blok Masela mampu menambah produksi 9,5 juta ton per tahun untuk LNG dan 150 mmcfd (kaki kubik per hari) untuk gas pipa.

"Tetapi memang tantangannya besar karena kita membutuhkan investor-investor yang punya kekuatan finansial karena ini nafasnya harus panjang," kata dia.

Menurut Dwi, turunnya harga minyak membuat investor berhitung kembali untuk menanamkan modalnya. Meski demikian, sektor migas di Indonesia masih menarik para investor yang dibuktikan dengan tingginya nilai investasi di Blok Masela.

"Dengan impact 20 miliar dolar AS di Masela masuk saya kira ini membuktikan sesungguhnya investasi di Indonesia sangat menarik khususnya di laut dalam dan Indonesia bagian timur," kata dia.

Dwi berharap JCY 2019 yang mempertemukan empat asosiasi bidang energi yaitu Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI), dan Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) memunculkan ide sebagai akselerasi peningkatan produksi termasuk bagaimana menarik semakin banyak investor menanamkan modalnya di sektor migas Indonesia.

"Kami harap kawan-kawan juga nanti menyampaikan ide-idenya bagaimana kita bisa akselerasi terhadap upaya-upaya peningkatan produksi ini," kata dia.

Baca juga: SKK Migas: Investasi hulu migas capai 8,4 miliar Dolar AS
 

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KASAL: Evakuasi KRI Nanggala-402 gunakan kapal SKK MigasĀ 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar