Produksi "green diesel" bisa tekan defisit neraca perdagangan

Produksi "green diesel" bisa tekan defisit neraca perdagangan

Bahan bakar minyak ramah lingkungan atau biosolar (B20) hasil produksi Kilang RU III Plaju. ANTARA/HO-PT Pertamina.

Kita jalankan program B20 dan B30. Sebanyak 30 persen BBM disubstitusi dengan biodiesel yang menggunakan bahan baku dari minyak sawit (CPO)
Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina (Persero), memiliki peran besar untuk mewujudkan target pemerintah menekan defisit neraca perdagangan melalui strategi substitusi bahan bakar minyak (BBM) dengan biofuel atau green diesel.

“Peran Pertamina untuk memproses green diesel sangat besar karena kilang untuk mengolahnya milik Pertamina,” kata Haryanto, Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat berbicara pada Panel II Pertamina Energy Forum 2019 bertema “Road Toward Green Energy” di Jakarta, Selasa.

Pertamina berhasil melakukan uji coba pengembangan green fuel di Kilang Plaju dan Dumai secara co-processing, yaitu bahan baku nabati dicampur dengan bahan baku fosil dan diolah bersama-sama untuk menghasilkan green gasoline dan green diesel. Kilang Plaju akan memproduksi green gasoline dan Kilang Dumai akan memproduksi green diesel.

Ke depan, Pertamina juga akan membangun kilang ramah lingkungan baru yang akan mampu mengolah 100 persen bahan baku nabati, tanpa campuran bahan bakar diesel, untuk menjadi green diesel.

Baca juga: Minat ekspor tinggi, produsen biodiesel tingkatkan kapasitas 2020

Menurut Haryanto, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menguatkan neraca perdagangan adalah mencari alternatif pengganti atau substitusi BBM, yakni dengan mengembangkan biodiesel.

“Kita jalankan program B20 dan B30. Sebanyak 30 persen BBM disubstitusi dengan biodiesel yang menggunakan bahan baku dari minyak sawit (CPO). Bahan bakar fosil kita gantikan dengan biodiesel,” ujarnya.

Haryanto menjelaskan konsumsi BBM terbesar berasal dari sektor transportasi, yaitu bensin dan solar. Untuk mengurangi penggunaan dua bahan bakar tersebut, pemerintah mendorong penggunaan biofuel untuk mensubstitusi solar digunakan biodiesel. Sementara itu untuk bensin dikembangkan bioetanol.

Baca juga: Desember, UE umumkan pengenaan final bea masuk biodiesel Indonesia

Ego Syahrial, selaku Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, menjelaskan substitusi minyak dengan bahan bakar berbasis CPO merupakan program pemerintah untuk mengurangi impor BBM. “Semua masuk dalam program pengurangan impor. Kita sudah memiliki sejumlah kota untuk menjadi pilot project untuk penggunaan bahan bakar berbasis CPO,” kata Ego.

Sementara itu, pelaku Mai Phuang Do, Managing Director Axens Regional Operation Center, mengatakan keberhasilan pengembangan energi baru terbarukan membutuhkan peran serta semua pihak. “Penerapan green energy sangat bergantung pada kemauan pemerintah dan masyarakat,” kata Mai.

Baca juga: Di tangan KSM Ramah Lingkungan Tarakan, minyak jelantah jadi biodiesel

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bawadi Coffee, UMKM yang tembus pasar Eropa berkat Pertamina

Komentar