Kadin Jatim dorong penguatan pendidikan vokasi

Kadin Jatim dorong penguatan pendidikan vokasi

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto (Dok Antara Jatim)

Pelatihan secara keberlanjutan ini dilakukan empat hingga lima kali dalam setahun. Dan hingga saat ini telah berhasil mencetak 453 lulusan pelatih tempat kerja
Surabaya (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim akan mendorong penguatan pendidikan vokasi di wilayah setempat, karena belum maksimalnya program pendidikan vokasi sistem ganda yang digagas pemerintah di wilayah Jatim.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto di Surabaya, Selasa, mengatakan dalam melaksanakan program pendidikan vokasi sistem ganda memang perlu perjuangan.

Dia menilai, tidak maksimalnya pendidikan vokasi yang digagas pemerintah karena masih belum adanya komitmen kuat dari dua belah pihak, yakni sekolah serta dunia usaha serta dunia industri.

"Baik sekolah maupun industri harus mau berkorban demi terciptanya tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan. Vokasi butuh pahlawan. Vokasi butuh dua kaki yang setara panjangnya. Industri dan sekolah yang mau berusaha semaksimal mungkin untuk mengaplikasikan sistem pendidikan ini dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan prosedur," katanya.

Ia mengatakan, pendidikan vokasi tidak semata-mata menerima pemagang dengan jumlah banyak di industri tanpa berpikir bagaimana mendidik mereka menjadi tenaga kerja yang kompeten.

Adik yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jatim ini mengaku Kadin Jatim bersama BKSP Jatim telah bekerja sama dengan IHK Trier Jerman atau dunia usaha Jermas sejak tahun 2015 untuk mencetak tenaga pengajar atau pelatih tempat kerja.

"Pelatihan secara keberlanjutan ini dilakukan empat hingga lima kali dalam setahun. Dan hingga saat ini telah berhasil mencetak 453 lulusan pelatih tempat kerja," katanya.

Oleh karena itu, kata Adik, sinkronisasi dan harmonisasi antara sekolah dengan perusahaan tempat belajar harus lebih erat, dan ini butuh kesadaran dua bela pihak.

"Sekolah tidak perlu memaksa industri menerima sebanyak mungkin pemagang, dan butuh kesadaran industri mengatur menerima jumlah atau siswa yang sesuai dengan profesi yang tersedia di industri tersebut. Dan tentu saja industri harus siap menerima pemagang. Kesiapan ini, melalui dua hal, siap dengan profesional bisa mengajar dan siap fasilitasnya," katanya.

Baca juga: Kadin Jatim petakan UMKM pengolahan produk pertanian

Baca juga: Kadin dorong UMKM Jatim dengan pendampingan berkelanjutan


 

Pewarta: A Malik Ibrahim
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar