Laporan dari Korea

Jokowi kunjungi pabrik Hyundai Motor di Ulsan Korsel

Jokowi kunjungi pabrik Hyundai Motor di Ulsan Korsel

Presiden Joko Widodo didampingi Executive Vice President of Hyundai Motor Grup Euisun Chung berkeliling Pabrik Hyundai Motor di Ulsan, Korea Selatan, Selasa (26/11/2019). ANTARA/Joko Susilo/pri.

Sekarang kemarin kantor utamanya ada di Malaysia tapi sekarang mereka mau giring masuk ke Indonesia
Busan-Korea (ANTARA) - Presiden Joko Widodo mengunjungi pabrik Hyundai Motor di Ulsan, Korea Selatan, Selasa, usai menghadiri KTT ASEAN-Republik of Korea (ROK) 2019.

Presiden tiba di pabrik kendaraan terintegrasi ini sekitar pukul 16.00 waktu setempat dan langsung disambut oleh Executive Vice President of Hyundai Motor Grup Euisun Chung serta Presiden dan CEO Hyundai Motor Company Wonhee Lee.

Presiden Jokowi yang datang bersama Ibu Negara Iriana berkunjung ke pabrik Hyundai ini juga didampingi para menteri, di antaranya Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menlu Retno Marsudi, Mensesneg Pratikno, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

Dalam kunjungannya, Presiden Jokowi juga menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Hyundai Motor dan Pemerintah Indonesia untuk membangun pusat manufaktur pertama yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Hari ke-4 di Korea, Jokowi ke KTT ASEAN-ROK hingga kunjungi Hyundai

MoU ini ditandangani Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dan Presiden dan CEO Hyundai Motor Company Wonhee Lee.

Wonhee Lee mengungkapkan pabrik cangih yang akan dibangun di Indonesia ini akan menempati lahan seluas 77,8 hektare yang berlokasi di Kota Detltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Presiden Joko Widodo melihat salah satu mobil demo saat berkunjung ke pabrik Hyundai Motor di Ulsan, Korea Selatan, Selasa (26/11/2019) (Joko Susilo)

Kepala BKPM Bahlil mengatakan Hyundai akan melakukan investasi di Indonesia dengan membangun pabrik dengan nilai investasi kurang lebih sekitar 1,56 miliar dolar AS.

Baca juga: Presiden Jokowi serukan perkuat konektivitas ASEAN-Korsel

"Tahap pertama kurang lebih sekitar 700 juta dolar AS. Semua perizinan itu sudah komplit dan tahap pertama ini mereka akan 'running' di 2020 bulan Januari sudah jalan," kata Bahlil.

Dia juga mengharapkan satu tahun produksi pabrik bisa mencapai 250 ribu unit dan Indonesia akan menjadi kantor utamanya.

"Sekarang kemarin kantor utamanya ada di Malaysia tapi sekarang mereka mau giring masuk ke Indonesia," katanya.

Bahlil menjelaskan bahwa pada Januari 2020 ini merupakan awal pembangunan pabrik dan diharapkan pada 2021 sudah produksi penuh. 

Bahlil berharap masuknya investasi Hyundai Motor mampu menciptakan lapangan kerja kurang lebih untuk sekitar 5.000-6.000 orang.

Baca juga: Bertemu CEO Korea, Jokowi: Iklim investasi Indonesia semakin menarik

Bahlil mengatakan bahwa Hyundai akan mengembangkan mobil listrik karena Indonesia memiliki kekayaan alam feronikel dan cobalt serta mangan yang menjadi bahan baku pembuatan cell listrik untuk baterai mobil.

"Sumber daya alam kita itu bisa kita olah sedemikian rupa sehingga mempunyai daya saing dan kemudian negara akan membutuhkan Indonesia.

Di sinilah sebenarnya esensi kita untuk menaikkan peran agar kita disegani juga di negara-negara lain," katanya.

Dalam kunjungan ke pabrik Hyundai ini, Presiden Jokowi diajak berkeliling melihat produksi mobil secara langsung.

Selain itu juga menyaksikan contoh dan demo mobil Hyundai tenaga listrik dan hibrid, serta peragaan robot pembantu pekerja dalam merakit mobil.

Setelah satu jam berkunjung, Presiden Jokowi meninggalkan pabrik Hyundai menuju Bandar Udara Internasional Gimhae, Busan, untuk kembali ke Tanah Air setelah empat hari melakukan kunjungan kerja di Korea Selatan.

Baca juga: Temui peneliti Indonesia di Busan, Jokowi akui baru menata ulang riset

Pewarta: Joko Susilo
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Terkait PSBB, Presiden Jokowi : Belum ada kepala daerah beda pendapat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar