Kesetaraan gender di mata Dubes Swedia

Kesetaraan gender di mata Dubes Swedia

Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Marina Berg. (ANTARA/Suwanti)

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Marina Berg, berbagi pandangan mengenai isu kesetaraan gender yang menurutnya merupakan dasar penting untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Pada diskusi santai yang digelar di Jakarta pada Selasa dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP), Berg menyebut pemahaman tentang kesetaraan posisi antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat bisa disebarkan melalui informasi dan pendidikan.

"Sekitar tahun 50an atau 60an Swedia bekerja dengan kesetaraan gender ketika pemerintah mulai menyadari ada keperluan lebih banyak perempuan di dalam masyarakat, mereka tidak bisa tinggal di rumah karena dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi, semacam ketidaksengajaan," ujar dia.

Dengan keadaan di Swedia itu, Berg mencoba menggambarkan bagaimana pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi di dalam masyarakat dan kaitannya dengan peran perempuan yang bisa berpengaruh untuk mengubah keadaan tersebut melalui partisipasi yang tidak dibatasi.

Selain itu, penanaman pengetahuan mengenai kesetaraan gender secara normatif perlu dilakukan melalui pendidikan dasar kepada anak-anak.

"Kita harus memulai pendidikan soal kesetaraan gender sejak usia dini, mengajarkan anak-anak tentang hak yang setara karena itu bukanlah tentang perempuan ataupun laki-laki, namun tentang hak asasi manusia. Semua orang sama dan setara," kata dia.

Saat ini, tutur Berg, Swedia tengah gencar menerapkan kebijakan luar negeri feminis yang melibatkan aspek kesetaraan gender dalam kerja-kerja dan interaksi dengan negara lain.

Kebijakan yang diluncurkan pada 2014 lalu itu disebut sebagai langkah untuk melawan diskriminasi dan ketidaksetaraan gender yang terjadi.
Baca juga: Survey: Kesetaraan gender di tempat kerja tingkatkan profitabilitas
Baca juga: Politisi ini usung program anti kekerasan perempuan

 

Pewarta: Suwanti
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar