Jakarta (ANTARA) - Fazlur Rahman, seorang tunanetra yang pernah terperosok di Stasiun Cikini mengaku trauma menggunakan kereta sebagai sarana transportasi di Jakarta.

"Saya sekarang takut buat naik kereta, walaupun ada pendamping seperti sekarang saya tetap takut," kata Fazlur saat melakukan aksinya di depan Kementerian Perhubungan RI, Rabu.

Mahasiswa pascasarjana UHAMKA itu mengatakan, usai terjatuh di antara celah peron Stasiun Cikini saat ada kereta menuju Bekasi dirinya sama sekali tidak mendapatkan pendampingan kesehatan baik fisik maupun psikologi dari pihak Kereta Commuter Indonesia (KCI) selaku operator KRL.

"Tidak ada penawaran memberikan layanan kesehatan dan semua orang yang mengalami kejadian jatuh, saya takut tapi berusaha menetralkan diri saya," kata Fazlur.

Meski begitu, pria yang akrab dipanggil Alun itu mengatakan, pihak KCI akhirnya menemui dirinya dan meminta maaf seminggu setelah ia terperosok di celah peron Stasiun Cikini.

"Saya terima permintaan maaf mereka, tapi kalau dari regulasi ya tentu saya tidak akan diam. Saya membawa nama penyandang disabilitas di seluruh Indonesia dan akan menuntut KCI karena tidak punya sensitivitas menyediakan layanan bagi para penyandang disabilitas," kata Alun.

Baca juga: Penyandang disabilitas lakukan aksi di Kemenhub tuntut regulasi
Baca juga: Pemegang Kartu Penyandang Disabilitas DKI dapat berbagai manfaat


Alun melakukan aksi di depan Kementerian Perhubungan untuk menuntut regulator dan operator agar lebih sensitif terhadap para penyandang disabilitas yang menggunakan jasa angkutan umum secara mandiri.

"Setidaknya kalau mereka bilang sudah ada fasilitas bagi penyandang disabilitas dalam transportasi umum ya tingkatkan sensitivitas para petugasnya karena percuma ada fasilitas tapi ga ada sensitivitas petugas membantu kami," kata Alun.

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2019