Penyelidik PBB identifikasi 160 milisi ISIS terkait pembantaian Yazidi

Penyelidik PBB identifikasi 160 milisi ISIS terkait pembantaian Yazidi

Para perempuan Yazidi menghadiri sebuah upacara di Kuil Lilash untuk memperingati kematian para perempuan yang dibunuh oleh militan Islamic State, saat Hari Perempuan Internasional di Shikhan, utara Irak, Jumat (8/3/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Ari Jalal/cfo (

PBB (ANTARA) - Penyelidik PBB hingga saat ini telah mengidentifikasi 160 milisi ISIS, yang dituduh melakukan pembantaian terhadap kaum Yazidi di Irak utara pada 2014 dan sedang membuat kasus hukum untuk mereka, kata kepala tim kepada Dewan Keamanan PBB, Selasa.

Tim investigasi PBB, yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB, sejak tahun lalu mulai mengumpulkan dan menyimpan bukti untuk penuntutan atas tindakan ISIS di Irak di masa depan, yang mungkin merupakan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan atau genosida.

"Sehubungan dengan komunitas Yazidi saja, kami telah mengidentifikasi lebih dari 160 pelaku pembantaian terhadap kaum Yazidi ... dan kami sedang memfokuskan tugas kami untuk membuat kasus-kasus yang solid, yang semoga dalam kaitannya masing-masing dapat diajukan ke pengadilan domestik," kata Karim Asad Ahmad Khan, kepala tim PBB.
Baca juga: Dua kuburan massal suku Yazidi ditemukan dekat Mosul
Para ahli PBB memperingatkan pada Juni 2016 bahwa ISIS telah melakukan genosida terhadap kaum Yazidi di Suriah dan Irak untuk menghancurkan komunitas agama minoritas melalui pembunuhan, perbudakan seks dan kejahatan lainnya.

Milisi ISIS menganggap kaum Yazidi penyembah iblis. Keyakinan Yazidi memiliki unsur Kristen, Zoroastrianisme dan juga Islam.

Nadia Murad, yang menerima Penghargaan Nobel Perdamaian 2018 atas upayanya untuk mengakhiri penggunaan kekerasan seks sebagai senjata perang, dan pengacara HAM Amal Clooney berperan penting dalam mendorong tim investigasi PBB. Murad merupakan seorang perempuan Yazidi yang diperbudak dan diperkosa oleh para petempur ISIS pada 2014.

Baca juga: Peraih Nobel Murad ingin bangun rumah sakit di Irak

ISIS menyerbu kota Sinjar Yazidi di Irak utara pada 2014, memaksa perempuan muda menjadi budak sebagai "istri" bagi para petempur mereka dan membantai para kaum lansia.

Penyintas Yazidi, Kachi, yang nama lengkapnya dirahasiakan demi keselamatannya, berbicara kepada Dewan Keamanan PBB pada Selasa.

"Setelah menembaki kami, anggota ISIL pergi ke tempat lain. Saya menemukan diri saya ditumpukan jasad," katanya kepada Dewan. "Ketika saya membuka mata, saya melihat tiga saudara lelaki saya. Mereka di sebelah saya. Mereka sudah tak bernyawa. Begitu pun dengan keponakan dan sepupu saya."

Ia mengungkapkan istri dan putrinya diculik dan dijual sebagai budak dan mengaku telah kehilangan sekitar 75 anggota keluarga.

"Lima tahun berselang dan saya masih dapat mendengar istri dan putri saya menjerit ketika anggota ISIL menculik mereka. Saya juga bisa mendengar suara putri saya Lara, yang berusia tiga bulan saat ia meninggal dalam tawanan akibat haus dan kelaparan," kata Kachi.

Menurutnya, kaum Yazidi kini menginginkan keadilan.

Sumber: Reuters
Baca juga: Pasukan Irak bebaskan para wanita Yazidi dari ISIS
​​​​​​​

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar