Peta Lidar jadi solusi permasalahan drainase pemukiman

Peta Lidar jadi  solusi permasalahan drainase pemukiman

Peta lidar di Kota Surabaya (ANTARA/HO)

peta yang dimiliki Surabaya ini merupakan yang pertama kali di Indonesia
Surabaya (ANTARA) - Peta Lidar atau teknik pengambilan data dengan menggunakan teknologi laser yang diambil dari udara untuk mengetahui ketinggian dari permukaan tanah dan bentuk benda yang ada di permukaan merupakan solusi permasalahan drainase pemukiman di Kota Surabaya, Jawa Timur.

"Kami sudah konfirmasi ke Bappeko (Badan Perencanaan pembangunan Kota) Surabaya terkait drainase pemukiman yang belum terkoneksi dengan rapi. Jawaban Bappeko bahwa sudah dimulai dengan adanya Peta Lidar," kata Wakil Ketua Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Surabaya Aning Rahmawati di Surabaya, Kamis. 

Menurut dia, Peta Lidar ini yang nantinya akan mengurai dan perlahan menjadi solusi untuk permasalahan drainase pemukiman. Sehingga, lanjut dia, ke depan perlu lebih diperhatikan lagi tentang koneksi drainase khususnya di kawasan pemukiman, agar masyarakat makin merasakan pembangunan Surabaya yang berkesinambungan.

Baca juga: Akademisi ingatkan pentingnya pemetaan jalur sesar aktif


"Koneksi drainase pemukiman sedang menjadi perhatian khusus dirinya di Komisi C dan akan menjadi salah satu bahasan dengan dinas terkait," katanya.

Diketahui, Pemerintah Kota Surabaya untuk pertama kalinya menggunakan foto udara dan lidar untuk mempermudah pelayanan perizinan dan perencanan kota menjadi lebih optimal. Foto udara dan lidar diperkenalkan ke publik sejak 2017.

Foto udara merupakan teknik pengambilan gambar dari udara yang digunakan untuk dasar pembuatan peta rencana tata ruang wilayah (RTRW) Surabaya. Peta udara ini merupakan aturan yang dipersyaratkan bahwa semua peta di seluruh Indonesia harus disahkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG).

Baca juga: BIG: Kebijakan satu peta dorong penyelesaian konflik agraria


Hasil foto udara tersebut lebih jelas dan detail dikarenakan diambil dari ketinggian 750 meter dengan menggunakan pesawat terbang. Ketinggian tersebut merupakan jarak ideal untuk mendapatkan hasil yang jelas dan teliti. Sebab, bila lebih tinggi, semisal 1.000 meter, maka gambarnya akan kurang jelas. Sementara bila lebih rendah, jangkauannya akan terbatas.

Sementara Lidar merupakan teknik pengambilan data dengan menggunakan teknologi laser yang diambil dari udara untuk mengetahui ketinggian dari permukaan tanah dan bentuk benda yang ada di permukaan, seperti halnya bentuk bangunan dan kondisi koridor jalan.

Untuk lidar, peta yang dimiliki Surabaya yang sudah ditandatangani BIG ini merupakan yang pertama kali di Indonesia. Lidar ini bentuknya seperti aplikasi google map. Peta ini tidak hanya dibutuhkan Pemkot Surabaya tetapi juga dibutuhkan Badan Pertanahan Nasional.


Baca juga: BRG serahkan peta LiDAR gambut ke KLHK

Pewarta: Abdul Hakim
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ketua dan Wakil Ketua DPRD NTB periode 2019-2024 dilantik

Komentar