Aktivitas perdagangan ganggu ekosistem perairan Tanjungpinang

Aktivitas perdagangan ganggu ekosistem perairan Tanjungpinang

Ilustrasi - Seorang warga membelah kayu bekas sampah laut di pinggir pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureuboe, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (23/11/2019). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.

Tanjungpinang (ANTARA) - Aktivitas perdagangan maupun rumah tangga mengganggu ekosistem di sejumlah perairan di Kota Tanjungpinang, kata pengamat lingkungan, Fadhliyah Idris.

"Sampah-sampah plastik tidak hanya mengganggu keindahan laut, melainkan juga memberi pengaruh negatif pada ekosistem di laut," kata Fadhliyah dalam seminar bertema "Menyelamatkan Lingkungan Di Tengah Desakan Ekonomi" yang diselenggarakan Komunitas Bakti Bangsa di Tanjungpinang, Kamis.

Ia mengatakan sejumlah mahasiswa telah mengkaji pengaruh limbah di perairan terhadap ikan, karang maupun padang lamun. Hasil kajian mahasiswa terhadap ikan sembilang, contohnya, ditemukan mikro plastik pada lambung ikan yang suka dikonsumsi masyarakat.

Selain itu, pada sekitar karang juga ditemukan tumpukan sampah, yang potensial menyebabkan karang tersebut.

"Pada padang lamun juga ditemukan benda, yang dapat mengganggu pertumbuhannya," katanya.

Baca juga: LIPI segera teliti kandungan mikroplastik di lautan Indonesia

Baca juga: Operasi 30 hari di laut digelar untuk atasi kerusakan lingkungan

Baca juga: Greenpeace minta korporasi berbagi tanggung jawab kurangi plastik


Fadhliyah mengemukakan persoalan pencemaran di pemukiman padat di sejumlah pelantar di Tanjungpinang juga perlu mendapat perhatian serius. Tumpukan sampah itu menyebabkan ekosistem di perairan pelantar itu menjadi terganggu, bahkan mati.

Pembenahan tidak cukup dengan pembersihan sampah di pelantar yang sifatnya sporadis, melainkan harus terus-menerus diingatkan agar dilakukan pembersihan.

"Harus dimulai dengan mencintai lingkungan laut, kemudian merasa memilikinya sehingga tidak rela perairan menjadi kotor," katanya.

Direktur Air, Lingkungan dan Masyarakat (ALIM) Kherjuli, mengatakan, aktivitas perdagangan kerap menimbulkan permasalahan lingkungan. Di pesisir di Kepri, banyak sampah-sampah nonorganik, seperti botol plastik dan kantong plastik.

Pengelolaan sampah plastik juga masih belum maksimal sehingga menyisakan permasalahan.

"Semestinya pada seluruh produk yang kemasannya menggunakan plastik tertera label yang bertuliskan buanglah sampah pada tempatnya," katanya.*

Baca juga: Pakar sebut menangkap seekor rajungan bertelur bunuh sejuta anakannya

Baca juga: LDII Kota Makassar komitmen mengurangi sampah di laut

Baca juga: KLHK ajak semua pihak bergerak atasi permasalahan sampah di laut

Pewarta: Nikolas Panama
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengamat politik: Pilkada tak perlu ditunda, tapi lakukan secara virtual

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar