BDF ke-12 akan soroti kepemimpinan perempuan dalam demokrasi

BDF ke-12 akan soroti kepemimpinan perempuan dalam demokrasi

Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Cecep Herawan dalam temu media Bali Democracy Forum (BDF) ke-12 di Jakarta, Kamis (28/11/2019). (ANTARA/Suwanti/tm)

Jakarta (ANTARA) - Kepemimpinan perempuan dalam demokrasi inklusif akan menjadi sorotan selama Forum Demokrasi Bali (BDF/Bali Democracy Forum) ke-12, yang dijadwalkan berlangsung pada 5-6 Desember 2019 di Nusa Dua, Bali.  

Dalam temu media BDF di Jakarta, Kamis, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI Cecep Herawan memaparkan bahwa isu tersebut adalah turunan dari tema besar yang diusung, yaitu "democracy and inclusivity".

"Secara khusus, pada minister level dialogue (dialog antarmenteri) akan diangkat tema women leadership (kepemimpinan perempuan), karena ini adalah salah satu elemen penting dalam menjaga inklusi demokrasi dan pembangunan yang sifatnya global," ujar Cecep.

Menurut dia, perempuan adalah aspek penting demokrasi terbesar yang secara langsung bersentuhan dengan masyarakat dalam kehidupan keseharian sehingga, jika kepemimpinan perempuan berhasil ditonjolkan dalam forum tersebut, demokrasi akan tumbuh dengan lebih baik.

Selain itu, nilai ketercakupan yang disasar tidak hanya dari aspek politik dan sosial, namun juga kemakmuran.

Baca juga: Perempuan Arab Saudi untuk pertama kalinya diizinkan jadi notaris

"Sebagaimana kita ketahui bahwa yang paling rentan terkait kesejahteraan adalah para perempuan, sehingga suara perempuan sebagai bagian dari masyarakat perlu didengar lebih baik," kata Cecep menambahkan.

Diskusi panel menteri, sebagai panel utama, dalam BDF tahun ini akan menghadirkan para menteri luar negeri perempuan.

"Sejauh ini yang sudah konfirmasi adalah menteri luar negeri perempuan dari Kenya dan Australia, dan diharapkan akan memberikan perspektif soal women leadership dari dua kawasan yang berbeda," katanya.

BDF ke-12 rencananya akan dibuka oleh Ketua DPR Puan Maharani sementara Ketua Komisi I DPR Meutya Viada Hafid dijadwalkan untuk menutup penyelenggaraan forum tersebut.

Baca juga: Profil - Puan Maharani, perempuan pertama pimpin DPR

BDF diselenggarakan pertama kali pada 2009 di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diadakan rutin sebagai forum tahunan, yang awalnya dibentuk untuk kawasan Asia-Pasifik.

Forum itu ditekankan sebagai ajang untuk berbagi pengalaman menjalankan demokrasi di masing-masing negara peserta tanpa mencoba menggurui satu dengan lainnya.

Tema BDF setiap tahun penyelenggaraannya berbeda namun dibuat berkesinambungan, seperti tema pencakupan tahun ini yang merujuk pada cara untuk mencapai kemakmuran --yang menjadi tema BDF tahun lalu.

Kedua tema tersebut juga merupakan rincian dari hal yang disasar pada BDF 2010 mengenai bagaimana cara menyampaikan nilai-nilai dan prinsip demokrasi.

Baca juga: Belgia akan punya perempuan perdana menteri pertama

Baca juga: Ethiopia nobatkan presiden perempuan pertama

 Baca juga: Wasit perempuan pertama kalinya pimpin Piala Super Eropa
 

Delegasi BDF Kagumi Toleransi Pesantren di Bali

Pewarta: Suwanti
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar