NTT masuki masa pancaroba, BMKG ingatkan warga waspada

NTT masuki masa pancaroba,  BMKG ingatkan warga waspada

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Agung Sudiono Abadi. (FOTO ANTARA/Bernadus Tokan)

Hujan yang terjadi pada masa pancaroba ini biasanya disertai petir dan angin kencang
Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  untuk mewaspadai masa pancaroba yang kini memasuki daerah itu.

"Wilayah NTT saat ini memasuki masa pancaroba, di mana kondisi cuaca sangat tidak menentu. Ketika kondisi cuaca sedang cerah bisa terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat dan kembali menjadi cerah, sehingga harus diwaspadai," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari, Agung Sudiono Abadi, di Kupang, Jumat.

Pancaroba adalah masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya.

Dia menjelaskan, hujan yang terjadi pada masa pancaroba ini biasanya disertai petir dan angin kencang.

Kondisi ini disebabkan pada masa pancaroba terdapat peningkatan pertumbuhan awan-awan konveksi. Salah satunya adalah Cumolonimbus (Cb), yang berpotensi menyebabkan terjadinya angin putting beliung.

"Karena sifatnya yang terjadi secara mendadak dan dalam waktu yang sangat singkat, maka harus diwaspadai," katanya.

Mengenai upaya, dia mengatakan, yang dapat dilakukan dalam mengurangi risiko bencana antara lain memangkas dahan pohon yang terlalu besar dari pohon yang terlalu rimbun dan rapuh untuk mengurangi beban.

Kemudian, memerhatikan atap rumah sekitar, jika ada atap dari rumah yang tidak permanen, usahakan untuk menghindari melewatinya di kala hujan, dan cuaca berangin karena atap rumah seperti ini mudah terhempas saat angin kencang.

Selanjutnya, waspada saat keadaan langit cerah, namun terdapat awan yang tiba-tiba gelap dan menghindari daerah di bawah awan gelap.

Di samping itu, segera berlindung atau menjauh dari lokasi kejadian, karena peristiwa fenomena tersebut sangat cepat.

Upaya jangka panjang adalah mengganti pohon di pinggir jalan yang berakar tunggang dengan pohon yang berakar serabut, demikian Agung Sudiono Abadi.

Baca juga: Masuk pancaroba, warga Kota Kupang diminta waspadai DBD dan Diare

Baca juga: NTT disebut BMKG akan memasuki musim pancaroba

Baca juga: BMKG sebut 136 titik panas di NTT

Pewarta: Bernadus Tokan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar